Tampilkan postingan dengan label LeaderShip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LeaderShip. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

Expand the Payza network and earn money!

 Dapatkan uang dengan internet cukup ajak gabung melalui pembayaran PAYZA
  • Earn up to $10 USD per referral
  • It's easy
  • Get paid instantly


Refer your friends, family, clients and contacts to Payza and qualify for cash rewards.
It’s simple: refer someone to use Payza, and if they meet the conditions (below) then you’ll get paid! All you have to do is copy and paste your personalized link or banner code into an email or your website to get started!
Terms and Conditions
  • Referrals must open a Personal or Business account and send/spend/receive at least $250.
  • Earn $5 for each of your first ten referrals and $10 each for every one after.
  • Self-referrals or referrals from the same IP address or device will not be rewarded.
  • You will only be rewarded for qualifying referrals who signed up through your link

Ayo Lihat teman-teman Anda, keluarga, klien dan kontak ke Payza dan memenuhi syarat untuk hadiah uang tunai.

Sangat sederhana: merujuk seseorang untuk menggunakan Payza, dan jika mereka memenuhi persyaratan (bawah) maka anda akan dibayar! Yang harus Anda lakukan adalah copy dan paste link Anda pribadi atau kode banner ke email atau website Anda untuk memulai!



Each time you refer someone to Payza, you could earn up to $10.00 USD. The more people you bring to Payza, the more you'll earn. Helping you make more money -- think of it as our way of saying thank you.
Here are the ways you can integrate your referral link.
 
 
 

Referrals

A unique referral URL for your friends and customers. By clicking on your link, your referrals will be prompted to sign up for a Payza account.
Get Your Unique Referral URL

Link Code

A text link looks just like a standard hyperlink and will take on the font and color characteristics of your page.
Get Your Link Code Now

Banner Code

Have your referral link appear in a banner ad. When people click on the banner, they'll be directed to Payza through your referral.
Get Your Banner Code Now

Jumat, 20 Februari 2009

THE ACTION PRINCIPLES - the american succes institute

Berani Mengambil Resiko Gagal

Bersiap-siaplah. Saat ini adalah saat yang paling baik bagi anda untuk memulai tindakan-tindakan yang positif. Anda selalu berlatih dan anda punya kepercayaan diri dalam mempersiapkan tindakan anda. Jangan biarkan diri anda dikalahkan oleh keraguan. Anda menyadari bahwa saatnya akan datang dimana anda harus bertindak. Jika anda ragu terlalu lama, keraguan tersebut akan selalu menyelimuti dan berubah menjadi ketakutan. Ya, anda bisa tersandung. Ya, anda bisa ditolak. Ya, anda mungkin gagal. Inilah hidup. Para penakluk kehidupan setuju bahwa dalam berusaha mereka mungkin harus menyesuaikan dirinya, bahkan memulainya kembali berkali-kali. Perbedaan antara orang sukses dengan yang lainnya bukan pada apakah anda membuat kesalahan atau bahkan gagal untuk sementara waktu, tetapi perbedaanya pada bagaimana respon anda..

Kebanyakan orang mencari jaminan sebelum mengambil tindakan. Namun, dalam usaha pencarian jaminan tersebut, mereka sering menerima peringatan yang dapat dengan mudah digunakan sebagai alasan untuk tidak bertindak. Waspadalah, karena mereka yang paling mencintai andalah yang mungkin memperingatkan anda paling keras agar tidak mengambil resiko.
Jadilah Tangguh

Tangguh berarti anda bertekad untuk berdiri tegak dan gigih. Bahkan ketika pikiran dan tubuh anda memberi sinyal yang jelas agar anda menyerah, anda tetap berdiri. Tangguh jenis ini jelas sekali maknanya. Kita sebenarnya bisa melihat ketangguhan setiap hari jika kita mau mengamatinya. Tangguh bisa menjelma sebagai pasien yang sedang menjalani treatmen penyakit kanker atau seorang janda yang berjuang membesarkan putra-putrinya. Tangguh bisa menjelma dalam ujud pecandu alkohol yang siap menghadapai penyembuhan/rehabilitasi atau seorang atlit yang hidupnya diatas kursi roda. Tangguh bisa berupa menolak pujian palsu dan secara jujur menerima diri anda dan anak-anak anda apa adanya. Ketangguhan adalah kemampuan seseorang untuk membuat yang terbaik dari apa yang diberikan kepadanya. Tangguh adalah membuat keputusan untuk merubah sikap mengasihani diri, suka mengeluh dan selalu bergantung menjadi percaya diri, mandiri dan bertindak.

Anda harus tangguh dalam melaksanakan hal-hal besar dalam hidup, seperti mengambil resiko, mengakui kesalahan, dan mengubah kebiasaan buruk. Anda harus tangguh dalam melakukan hal-hal kecil seperti menggigit lidah anda, menunggu giliran anda, menerima dan sabar menghadpai orang-orang yang tidak mengerti. Keyakinan dan kepercayaan diri menuntut ketangguhan anda. Dan ada saatnya anda harus memperlunak kekerasan/ketangguhan anda menjadi kebaikan, karena anda menyadari bahwa seringkali kita harus keras dan tangguh untuk menjadi baik. Namun demikian tetaplah jadi orang baik.
Ciptakan Perubahan

Status quo mungkin kondisi yang menyenangkan, namun karena harus terjadi perkembangan, maka harus ada perubahan. Karena anda mencari perkembangan, maka anda harus mencari perubahan. Jangan anda lihat lingkungan anda sebagaimana adanya, namun bagaimana seharusnya dan seyogyanya. Anda mencari perubahan karena anda perlu mencari jati diri yang lebih baik sehingga anda dapat memainkan peran anda dalam menciptakan dunia yang lebih baik.

Pertama, ubahlah diri anda sendiri. Bisakah anda mengubah hari-hari anda dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk keluarga anda? Bisakah anda mengubah rutinitas makan siang anda dan menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan? Dapatkah anda saat pulang dari kantor menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di panti asuhan selama dua puluh menit dan mengunjungi sesorang yang tidak pernah di kunjungi orang lain? Bisakah anda mengubah kantor anda dan menyempatkan waktu untuk menghubungi lebih banyak orang lagi Apakah konsekuensi dari tidak adanya perubahan? Sadarlah bahwa banyak orang yang tidak membuat perencanaan karena mereka tidak ingin mengambil resiko dari perubahan.. Tidak melakukan banyak hal dalam hidup anda adalah hal yang lebih mudah dan aman daripada mengambil resiko, tapi anda akan menjadi orang yang kerdil. Maka dari itu carilah perubahan yang bisa membuat anda menjadi semua yang anda inginkan.
Berusahalah Untuk Lulus Ujian

Hidup adalah ujian dan inti dari ujian tersebut adalah seberapa besar perhatian yang anda berikan untuk mengembangkan diri anda dan membantu orang lain. Ketika ujian anda di nilai, maka anda harus tunjukkan dalam bidang apakah kesuksesan telah anda raih: belajar, kerja keras, kepribadian, bakat, ketrampilan, kesempatan, hubungan, sikap melindungi, atau keberuntungan? Sukses yang anda dapatkan dan simpan sendiri tidak akan mendapatkan penghargaan. Semakin besar anugerah yang anda dapatkan, maka semakin besar tanggung jawab anda untuk berbagi keberuntungan tersebut dengan orang lain.

Gunakan bakat-bakat khusus anda agar bermanfaat untuk kebaikan bersama. Usahakan agar tindakan-tindakan anda didasari oleh komitmen untuk beramal dan keadilan. Jadilah orang yang pengasih, murah hati dan bertenggang rasa. Bebaskan diri anda dari kecintaan terhadap materi. Prinsip-Prinsip Bertindak adalah panutan anda. Saat ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan anugerah-anugerah yang anda dapatkan. Mulailah menghitung nilai anda.
Terimalah Perbedaan

Lihatlah setiap orang sebagai individu dan bukan sebagai bagian sebuah kelompok. Seluruh manusia dari seluruh negara dan budaya pada dasarnya adalah sama tanpa memandang ras, warna, keyakinan atau jenis kelamin. Percayalah dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa sebagian besar orang-orang yang anda temui, jadikan teman atau ajak ber bisnis lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya dengan anda.

Orang pada dasarnya baik. Sebagian besar orang bertindak baik. Mereka tidak punya maksud menyakiti anda dan akan membantu anda pada saat anda membutuhkan. Jangan buang-buang waktu anda untuk memikirkan yang sebaliknya. Jangan menjadi pihak yang membuat rumor atau gosip.

Tolaklah kebijakan yang bersifat stereotip, memecah belah dan merendahkan diri yang mengelompokkan orang kedalam kategori-kategori. Jadilah orang pertama yang membangun jembatan toleransi dan kesepahaman.
Master Sukses

Ada master di dalam diri anda yang menjadi panutan. Master tersebut adalah anda pada kondisi yang terbaik. Teruslah berusaha.

Anda tenang, tenggang rasa, sabar dan percaya diri.

Anda jujur, dapat dipercaya, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.

Anda loyal dan menarik.

Anda rendah hati dan menghormati orang lain.

Anda tagguh, percaya diri, tekun dan pekerja keras.

Anda terorganisir, anggun dan stabil.

Anda selalu ingin tahu dan mau di ajar.

Anda sehat, bersemangat dan entusiastik.

Anda baik hati, bersahabat, suka membantu dan dermawan.

Anda berani dan gigih.

Anda bermoral dan beretika
Pancarkan Antusiasme Anda

Menerapkan Prinsip-Prinsip Bertindak kedalam kehidupan nyata akan mempertinggi jiwa anda dan mengangkat semangat anda. Anda akan merasakan kenikmatan dan semangat untuk hidup. Anda akan menjalani hari-hari yang penuh dan lebih baik. Hal ini terjadi karena anda telah memanfaatkan saat-saat hening anda untuk berpikir, mengorganisasikan dan memprioritaskan hidup anda. Anda akan mencintai banyak hal dan hal-hal tersebut akan menjadi bagian dari hari-hari anda. Anda akan selalu berada di bawah kendali. Setiap hari anda akan melakukan hal-hal baik untuk diri anda sendiri maupun orang lain. Kata-kata seperti membosankan, ejekan, tidak berarti, akan jarang mewarnai kerja dan hubungan anda.

Dengarlah CD kesukaan anda. Telponlah teman. Bacalah buku-buku yang bagus. Tersenyumlah. Dengarkan. Lihat. Rasakan. Baui . Jalan-jalanlah dan lihat seluruh keajaiban dunia anda. Tunjukkan kepada semua orang bahwa hidup adalah suatu yang berharga.

Jadilah seorang motivator. Tanyai orang lain tentang tujuan mereka dan bagaimana anda mungkin membantu mereka. Buatlah orang-orang merasa menjadi bagian dari sebuah tim yang berhasil. Mintai mereka masukan. Yakinkan bahwa setiap orang terlibat dan di beri informasi. Berikan insentif kinerja. Cari kesempatan untuk memuji dan memberi imbalan. Antusisme adalah sesuatu yang mudah menular.

Sambutlah pemula

Anda masuk sekolah karate untuk pertama kalinya dan melihat tendangan, jotosan, ganjalan, pukulan kebawah dan lemparan. Pengalaman pertama ini bisa mengintimidasi anda jika anda tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya. Atau anda mungkin terlihat dan merasa kaku saat pertama kali belajar ski salju atau rollerblade atau belajar bahasa asing. Namun demikian tetaplah tekun; hari itu adalah hari pertama anda dan setelah itu tidak ada lagi hari pertama yang lain.

Setiap mengawali usaha baru mungkin akan terasa berat. Terimalah hal itu. Anda harus percaya pada diri anda sendiri. Pada awalnya kritik akan dengan membuat ide dan tujuan anda tampak seakan-akan bodoh serta tidak realistis. Namun, ketika anda mencapai keberhasilan, setiap orang akan mengklaim telah berada di dalam tim anda sejak awal. Bertindaklah dan tekunlah. Sambut mereka yang mencoba, karena langkah pertama sering merupakan langkah yang tersulit. Sambutlah para pendatang baru.
Hadiahi Diri Anda Dengan Kemandirian

Jika ada satu hadiah yang bisa anda berikan kepada diri anda sendiri, yang mampu meningkatkan kualitas hidup anda secara umum, maka hadiah itu adalah kemandirian. Dengan mempunya kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri anda telah mempunyai segala yang anda perlukan untuk berhasil. Anda bisa bekerja dengan jadwal anda sendiri untuk mencapai tujuan anda tanpa merasa ditekan oleh permintaan orang lain.

Saat anda mandiri dan anda kehilangan pekerjaan, maka anda akan mendapatkan pekerjaan lainnya. Jika anda kehilangan pekerjaan tersebut, anda akan memulai usaha anda sendiri. Jika anda menerapkan Prinsip-Prinsip Bertindak, sebagai tukang serabutan pun anda akan bisa menghasilkan lebih banyak uang daripada seorang pengacara yang malas. Anda perlu kemauan, kepercayaan diri dan rencana yang realistis. Sebagai pengikut Prinsip-Prinsip Bertindak, anda akan mendapatkanya semuanya. Kehidupan tidak akan bisa menjatuhkan anda karena anda mengendalikan diri anda sendiri.
Memimpin Dengan Contoh

Mulailah bertindak sebagai orang yang berkarakter dengan reputasi yang bisa diandalkan. Kata-kata anda, gaya anda, perilaku anda, pakaian anda, postur anda dan tindakan-tindakan anda semuanya adalah refleksi diri anda. Di masyarakat modern, orang-orang secara terus menerus dibombardir dengan pesan-pesan visual dan audio. Orang-orang perlu petunjuk untuk membedakan hal-hal baik dari hal-hal yang buruk dan mereka juga perlu tatanan sehingga mereka dapat membuat keputussan. Di banyak aspek kehidupan anda sehari-hari, anda sering mengirimkan petunjuk baik positif maupun negatif. Jika anda berbicara dengan baik, berpakaian serasi, tersenyum, ramah tamah, bekerja keras, ikhlas dan tidak mengeluh, maka anda memberi jalan pintas kepada orang lain untuk memandang anda pada saat terbaik anda.

Jangan pernah berharap agar orang lain melakukan apa yang tidak anda lakukan. Anda harus adil, tegas, bersahabat dan bisa diharapkan. Jika anda harus mengoreksi seseorang, lakukan hal itu secara pribadi. Anda telah berhasil menjadi seorang pemimpin jika kelompok anda tetap bekerja dengan baik tanpa kehadiran anda. Terus cari pahlawan-pahlawan dalam kehidupan anda untuk anda kagumi dan tiru. Contohlah gaya-gaya mereka. Pimpinlah dengan contoh.
Kendalikan Konflik

Tetap tenang dan tidak memihak. Biarkan yang lain membabi buta, sementara anda mempertimbangkan respon yang tepat. Apakah anda sebaiknya mencari alasan, setuju, meminta maaf, bertempur atau meninggalkan gelanggang? Pilihlah mana yang menguntungkan anda dan mereka yang anda lindungi. Berargumen sering membuat pihak lain menjadi semakin lebih defensif dan gigih untuk mencari kemenangan. Lepaskan kemarahan anda. Kemarahan tersebut hanya semakin mempergelap masalah dan mendorong anda untuk mengambil respon gegabah. Jika memungkinkan, gunakan kebaikan sebagai senjata anda melawan keburukan. Netralkan teriakan-teriakan dengan kata-kata lembut. Jawablah ancaman dengan keyakinan yang menenangkan. Berbicaralah dengan sederhana. Jangan menggunakan kata-kata kotor atau sarkasme. Tarik nafas yang dalam dan hembuskan pelan-pelan. Kikislah kemarahan dari diri anda. Jangan terlalu membesar-besarkan sesuatu. Jangan berbohong. Seranglah argumennya bukan orangnya.

Hubungan jangka panjang hampir selalu lebih penting dari pada masalah-masalah jangka pendek, Jadilah pembuat perdamaian yang aktif, yang membangun jembatan kesepahaman.
Dengarkan Insting Anda

"Saya merasa nggak nyaman disini. Saya tidak suka suara ini. Tampaknya kok nggak bagus buat saya."

Jika berkaitan dengan tubuh dan lingkungan sekeliling anda, insting anda adalah sistim peringatan dini yang terbaik. Dengarkan suara dari dalam diri anda. Dengarkan indra anda. Pergilah ke dokter. Tinggalkan pesta. Menyingkirlah dari orang-orang ini. Berhentilah bekerja. Jangan buka pintu itu. Berlindunglah di dalam toko itu. Dunia adalah tempat yang tidak sempurna. Terdapat banyak tempat-tempat dan orang-orang yang berbahaya didalamnya.

Pada saat tertentu, insting anda mungkin tidak bekerja dan anda merasa bodoh. Anda membuat kesalahan yang bisa mengancam keselamatan anda dan insting anda mungkin menyelamatkan anda dari bahaya. Beri diri anda ruang dan waktu untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan anda. Jika anda melakukan sesuatu yang berlawanan dengan insting anda, maka anda termasuk nekat.
Hadapi Ketakutan

Pengetahuan, latihan dan keberanian adalah senjata anda melawan ketakutan.

Seseorang berani meloncat keluar dari pintu pesawat di ketinggian 2.000 kaki tanpa keraguan. Yang lain mampu berdiri dan berpidato didepan 2.000 hadirin tanpa berkeringat sedikitpun. Ketakutan bisa masuk akal dan tidak masuk akal, namun demikian ketakutan adalah sesuatu yang selalu pribadi dan nyata. Setiap orang takut terhadap sesuatu.

Untuk mengurangi ketakutan, pertama anda harus menghadapinya. Terjun bebas atau pidato yang ke seratus kali tidak akan se traumatis dibandingkan saat-saat melakukannya pertama kali dulu. Cara terbaik mengatasi ketakutan pertama adalah dengan mengkombinasikan antara logika dan keberaniaan. Logikanya, mereka yang terjun bebas dari pesawat atau berpidato tidak akan meninggal. Mereka berhasil karena persiapan. Jika perlengkapan anda benar dan pelatihan anda lengkap, maka anda akan siap untuk terjun. Jika pidato anda disiapkan dengan seksama dan dipraktikkan, maka anda siap untuk berbicara.

Bergaulah dengan orang yang percaya diri. Anda telah melihat banyak orang telah melakukan sesuatu yang anda takutkan. Sekarang, lakukan yang telah mereka lakukan. Keberanian tumbuh bersama dengan tindakan. Ketakutan muncul karena anda mempelajarinya maka belajarlah untuk meninggalkannya. Setelah menghadapi ketakutan tersebut anda akan merasa gembira dan lepas. Tanpa ketakutan, maka tidak akan ada keberanian. Ketakutan memberi kesempatan untuk berani.
Jangan Menjadi Perfeksionis

Berusaha untuk sempurna membutuhkan terlalu banyak waktu dan usaha. Usaha ini menciptakan terlalu banyak stress dan bagaimanapun juga merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Sebagai gantinya berjuanglah untuk rileks sampai ke level 90%. Level ini adalah level penguasaan pribadi (personal mastery). Dengan mengikuti Prinsip-Prinsip Bertindak, mencapai level 90% dari usaha-usaha keuangan dan sosial anda merupakan sesuatu yang bahkan tidak harus anda pikirkan. Hal ini akan terjadi melalui ketekunan, kegigihan, kerja keras dan kepribadian menarik anda.

Sekarang, pelajarilah tingkat pendapatan dan gaya hidup dari 10% mereka yang tertinggi di profesi anda. Jika anda tidak puas mendapatkan penghasilan melebihi 90% teman sekerja anda, maka pilihlah profesi lainnya.

Anda tentu saja boleh berusaha terlalu keras dalam ber bisnis, latihan dan berhubungan dengan orang lain. Namun terlalu banyak pekerjaan bisa menimbulkan stress dan kecemasan, yang merupakan kebalikan dari kedamaian mental yang anda cari-cari. Hal terbaik yang anda lakukan merupakan sesuatu yang cukup baik. Hiduplah dengan standard tinggi, namun jangan hidup dengan obsesi yang tidak mungkin
Selalu Beradaptasi

Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan cinta terhadap banyak hal, anda masih tetap mungkin untuk bisa beradaptasi. Jika hujan turun ditengah perjalanan anda ke pantai, maka anda bisa pergi menonton. Jika anda harus menunggu sebuah janji, jangan kesal dan marah. Telponlah beberapa orang atau bekerjalah berdasarkan jadwal anda. Jika anda terjebak macet, nikmati kaset kesukaan, radio atau CD anda. Bawalah selalu buku dan anda tidak akan pernah sendirian. Hal-hal kecil tidak akan mengecewakan anda jika anda siap mengganti satu hal yang menarik dengan hal menarik lainnya.
Berpikir Menang-Menang

Berpikir menang-menang adalah kerangka berpikir untuk mencari keuntungan timbal balik dan didasarkan pada saling menghormati. Hal ini berkaitan dengan tawar menawar yang adil, berpikiran terbuka dan masuk akal terhadap semua pihak. Berpikir menang-menang berkaitan dengan kompromi dan keinginan tulus untuk mencari penyelesaian jalan tengah. Cara berpikir ini tidak akan mengambil keuntungan karena anda dipercaya bertindak dengan kehormatan.

Berpikir menang-menang adalah cara berpikir yang berada dalam konteks berkelebihan. Kita berbicara tentang "kue" yang sangat besar dan terus mengembang, kesempatan, kekayaan dan kemakmuran yang berlimpah, bukan kompetisi yang kering dan penuh dengan permusuhan.
Banggalah

Banggalah terhadap diri anda dan nilai-nilai serta kepercayaan yang anda yakini. Banggalah terhadap pendidikan, kerja dan prestasi pribadi anda. Banggalah terhadap pasangan anda, anak-anak anda dan keluarga besar anda. Banggalah terhadap rumah tangga dan lingkungan dimana anda tinggal. Banggalah terhadap negara anda. Banggalah akan tubuh anda, penampilan pribadi anda dan perilaku anda. Banggalah terhadap tim-tim olah raga dan organisasi budaya yang anda dukung. Banggalah terhadap pegawai pemerintah anda jika mereka melayani masyarakat dengan ikhlas.

Jangan takut menunjukkan diri anda, karena anda bertindak dengan keberanian dan kasih saying. Beritahu orang lain, dan berbahagialah karena anda menampilkan diri anda yang terbaik. Ajari yang lain, sehingga mereka juga akan mempunyai kebanggaan.
Ambil Keputusan

Anda tidak perlu menunggu ijin untuk melakukan hal-hal baik. Tegaslah. Ambil inisiatif Dapatkan fakta-faktanya. Kerjakan sekarang. Jika anda tidak punya waktu untuk mengirim surat kepada teman yang sakit, kirimkan kartu, faksimil atau e-mail. Jika anda tidak bisa mengunjungi ibu anda, teleponlah dia. Jika anda lihat sebuah hadiah yang pasti disukai teman anda, belilah untuknya. Jika anda tidak bisa pergi ke gelanggang olah raga atau dojo selama sembilan puluh menit, pergilah kesana selama empat puluh menit saja.

Hindari tidak melakukan sesuatu karena anda tidak bisa mengerjakannya tepat seperti yang anda rencanakan semula. Beranikan diri anda dan biasakan mengerjakan sesuatu. Berjalanlah sepanjang satu blok. Bayarlah tiga tagihan. Ambil lima belas menit untuk pekerjaan rumah anak anda. Amalkan lima dolar anda. Usaha-usaha kecil yang dikerjakan secara terus menerus akan menghasilkan hasil yang signifikan dan positif. Kerjakan saat ini juga mumpung masih ada di pikiran anda. Anda tidak harus sempurna menjalani Prinsip-Prinsip Bertindak. Cukup jadilah manusia tindakan. Anda harus punya lebih dari sekedar niat baik untuk berhasil. Anda harus bertindak. Kerjakan. Mulailah sekarang.
Jadilah Seorang Pejuang

Pejuang mempunyai sifat tangguh dalam kesetiaan, kehebatan, ketetapan hati, bersikap, berinisiatif, daya tahan, keberaniaan dan kekuatan tekad. Para pejuang bersifat lembut dalam ketenangan, percaya diri dan pengasih. Para pejuang sering diundang maju manakala yang lain berkeinginan mundur. Para pejuang ada di dalam peperangan dan dalam kehidupan setiap hari.

Orang lain mungkin bersikap kasar, mementingkan diri sendiri dan bereaksi dengan penuh kebencian terhadap anda. Meskipun demikian, tetaplah sopan.

Mereka yang anda tolong mungkin mengeluh dan tidak berterima kasih. Meskipun demikian, tetap tolong mereka.

Kata-kata jujur anda mungkin di bantah dan direndahkan. Meskipun demikian, tetaplah bersuara.

Keberhasilan mungkin melibatkan banyak kesalahan dan kekecewaan. Meskipun demikian, teruslah berusaha untuk sukses.

Bantuan anda mungkin terlalu kecil. Meskipun demikian, tetaplah memberi.

Seorang pejuang adalah teladan, selalu siap untuk berkembang dan melayani orang lain.
Tunjukkan Integritas

Sebagai seorang pengikut Prinsip-Prinsip Bertindak, anda adalah orang yang menawan, kuat, bersahabat, dermawan dan berhasil. Akan banyak yang mencari nasehat anda. Mereka akan bergantung pada anda. Punyai keyakinan dan kepercayaan dalam setiap tujuan anda. Ketahui apa yang akan anda perjuangkan dan tidak anda perjuangkan. Jangan berkompromi tentang sesuatu yang baik. Teguhlah pada pendirian dan prinsip anda. Karena anda akan menggunakan nilai-nilai etika anda untuk mengarahkan pembuatan keputusan anda. Integritas berdiri diatas kepentingan pribadi untuk mencapai keberanian moral. Kebohongan hanya akan menimbulkan kebohongan yang lain.

Penuhi janji anda. Penuhi komitmen anda. Orang-orang ingin tahu dimana anda berdiri dan untuk apa anda berdiri disana. Orang-orang menghormati kejujuran dan ketulusan, tetapi membenci kemunafikan. Tetaplah konsisten. Berbicaralah berdasarkan fakta yang jelas. Yakinkan bahwa kata-kata anda sesuai dengan perbuatan anda. Kerjakan apa yang anda katakan dan kredibilitas anda akan terbangun. Tidak ada kata lain yang lebih kuat daripada "Pegang kata-kataku"


Tetaplah Fokus


Di dalam perjuangan hidup, anda akan sering menerima pukulan. Beberapa pukulan tersebut mungkin menyakitkan. Namun hal itu juga akan lewat. Anda adalah pusat dari semesta. Penuhi keperluan anda dulu. Kemudian pergilah ke keluarga, teman, tetangga dan pekerja anda. Bergeraklah ke komunitas yang lebih besar. Jangan gunakan kata menyelamatkan dunia sebagai alasan anda untuk melupakan keluarga anda. Jangan biarkan orang lain menekan dan meburu anda untuk bertindak sebelum anda putuskan mana yang terbaik. Hal terpenting yang bisa diberikan seorang bapak kepada anak-anaknya adalah dengan mencintai ibu mereka.


Berdirilah dengan lutut agak membengkok. Tadahkan kepala. Bernafaslah yang dalam dari perut anda. Anda adalah bagian yang sangat kecil dari benda-benda yang maha besar. Anda menyatu dengan semesta. Anda adalah segala sesuatu dan bukan sesuatu. Tetaplah tenang, seimbang dan waspada.

Cintai Banyak Hal


Kesempatan anda untuk bahagia akan meningkat secara proporsional seiring meningkatnya jumlah sesuatu yang anda cintai. Cintailah banyak hal dan kebahagiaan anda akan meningkat menjadi antusiasme hidup, yang akan memberi efek positif terhadap anda dan mereka yang ada di sekeliling anda. Cari dan nikmati hal-hal yang bisa memberi nilai dan tujuan kepada hidup anda.


Untuk mencintai banyak hal, anda harus berjiwa petualang. Kehidupan yang membosankan adalah akibat kesalahan anda sendiri. Cobalah hal-hal baru. Buat hidup anda menarik dan menggairahkan. Berbahagialah. Anda harus bisa melihat keindahan dunia dalam skala besar sekaligus detilnya.


Cobalah: musik, seni, makanan, T'ai Chi, karate, teater, travel, film, matahari terbenam, latihan, teman, taman dan internet. Bukalah cakrawala berpikir anda. Temukan kesukaan anda. Jadikan rumah, kantor dan dojo anda sebagai tempat yang indah untuk dicintai. Terus berusahalah.....


Ingat betapa bahagianya anda karena mempunyai banyak minat. Kebahagiaan mungkin bukan hasil dari keberhasilan finansial. Kebahagiaan adalah hasil dari mencintai banyak hal dan menghargai apa yang telah anda dapatkan.


" Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia"

Action vs. Self-Delusion

Knowledge fueled by emotion equals action. Action is the ingredient that ensures results.. Only action can cause reaction. Further, only positive action can cause positive reaction.Action. The whole world loves to watch those who make things happen, and it rewards them for causing waves of productive enterprise.
I stress this because today I see many people who are really sold on affirmations. And yet there is a famous saying that “Faith without action serves no useful purpose.” How true!
I have nothing against affirmations as a tool to create action. Repeated to reinforce a disciplined plan, affirmations can help create wonderful results.
But there is also a very thin line between faith and folly. You see - affirmations without action can be the beginnings of self-delusion. And for your well being, there is little worse than self-delusion.
The man who dreams of wealth and yet walks daily toward certain financial disaster and the woman who wishes for happiness and yet thinks thoughts and commits acts that lead her toward certain despair are both victims of the false hope which affirmations without action can manufacture. Why? Because words soothe and, like a narcotic, they lull us into a state of complacency. Remember this: TO MAKE PROGRESS YOU MUST ACTUALLY GET STARTED!
The key is to take a step today. Whatever the project, start TODAY. Start clearing out a drawer of your newly organized desk … today. Start setting your first goal… today. Start listening to motivational cassettes … today. Start a sensible weight-reduction plan … today. Start calling on one tough customer a day … today. Start putting money in your new “investment for fortune” account … today. Write a long-overdue letter … today. ANYONE CAN! Even an uninspired person can start reading inspiring books.
Get some momentum going on your new commitment for the good life. See how many activities you can pile on your new commitment to the better life. Go all out! Break away from the downward pull of gravity. Start your thrusters going. Prove to yourself that the waiting is over and the hoping is past — that faith and action have now taken charge.
It’s a new day, a new beginning for your new life. With discipline you will be amazed at how much progress you’ll be able to make.. What have you got to lose except the guilt and fear of the past?
Now, I offer you this challenge: See how many things you can start and continue in this — the first day of your new beginning.
To Your Success,
Jim Rohn
Reproduced with permission from Your Achievement Ezine. To subscribe to Your Achievement Ezine, go to www.yoursuccessstore.com All contents Copyright © YourSuccessStore.com except where indicated otherwise. All rights reserved worldwide. Duplication or reprints only with express permission or approved Credits. All trademarks are the property of their respective owners.

By Jim Rohn

Sabtu, 10 Januari 2009

Beda Majikan dan Pemimpin

Dikutip dari www.astaga.com

Sekilas menjadi pemimpin kedengarannya enak. Karena pemimpin itu punya kedudukan, punya gaji besar, dan punya sejumlah anak buah yang selalu siap diperintah ini itu. Umumnya pemimpin pun selalu dihormati dan mendapat apresiasi yang tinggi di mata rekan-rekan dan anak buahnya. Maka jangan heran kalau selama ini banyak yang berangan-angan jadi pemimpin di kantor. Entah itu pemimpin suatu divisi, pemimpin tim kerja, apalagi pemimpin perusahaan.

Padahal sesungguhnya jadi pemimpin itu ngak gampang loh. Terlebih pemimpin di level teratas seperti Presiden Direktur atau Chief Executive Officer (CEO). Untuk menjadi pemimpin teratas tentu saja membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Tanggung jawab yang diembannya pun tidak sedikit. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu menggiring perusahaan mencapai kesuksesan dan kemajuan bersama dan harus bisa menjadi tokoh panutan bagi anak buah yang dipimpinnya. Karena itu pemimpin harus menjaga performa, sikap, tindakan, dan tutur kata. Toh, sesulit-sulitnya menjadi pemimpin, masih tetep aja banyak orang yang bermimpi jadi pemimpin.

Banyak orang yang berangan jadi pemimpin disebabkan oleh pikiran bahwa pemimpin adalah orang yang selalu disegani, dihormati, disanjung bahkan dipuja. Jika tujuan anda menjadi pemimpin hanya untuk mendapatkan segala macam sanjungan dan puja-puji, anda tidak akan pernah mampu menggiring anak buah mencapai tujuan bersama. Anda hanya berfungsi sebagai majikan bukan pemimpin. Loh kok? Emang apa bedanya pemimpin dan majikan...?

Sepintas pemimpin dan majikan tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama orang nomer satu di dalam wadah yang dipimpinnya. Tapi jangan salah lho, ada perbedaan mencolok antara pemimpin dan majikan. Coba ingat baik-baik, seorang majikan lebih berorientasi pada kepentinganya pribadi sedangkan pemimpin berorientasi pada tujuan dan kepentingan bersama.

Seorang majikan merupakan pemimpin yang suka memerintah untuk kepentingannya pribadi, kadang-kadang dengan dalih untuk kepentingan bersama. Ia pandai memanfaatkan anak buah untuk mencapai apapun yang diinginkannya. Ia juga selalu merindukan puja-puji dan sanjungan, tanpa peduli ia layak disanjung atau tidak.

Parahnya seorang bermental majikan tidak suka mendengar saran, kritik dan pendapat dari anak buah. Ia lebih suka kalau anak buah lah yang mendengarkan dan menerima pendapatnya. Hal ini disebabkan karena majikan memiliki tujuan pribadi bukan tujuan bersama. Seorang majikan ingin apa yang dilakukan anak buanya akan memberi keuntungan pribadi bagi dirinya. Sebaliknya, seorang pemimpin sejati selalu memikirkan kepentingan dan kemajuan bersama.

Jadi, pada prinsipnya seorang pemimpin bukanlah majikan. Begitu juga majikan bukanlah seorang pemimpin. Meski keduanya sama-sama memiliki konsep orang nomor satu, namun keduanya berbeda dalam cara pandang, sikap dan tingkah laku. Nah, coba sekarang perhatikan deh bos anda di kantor? Apakah ia seorang bermental majikan atau pemimpin sejati..? kalau bos anda seorang pemimpin sejati, beruntunglah anda!

Rabu, 07 Januari 2009

Anjing Yang Pintar

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datatng ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lg.

Maka, ia menghampiri anjing itu & melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya," tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini."

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar disana. Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya & berjalan mengikuti si anjing.

Anjing tsb berjalan mnyusuri jalan & sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat & menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dgn sabar dgn kantung plastik dimulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.

Anjing tsb kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat " papan informasi jam perjalanan ".

Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat " papan informasi jam perjalanan " dan kemudian duduk disalah satu bangku yg disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya & melihat nomor bus & kemudian kembali ke tempat duduknya.

Bus lain datang. Sekali lg bus lainnya datang. Sekali lagi si anjing menghampiri & melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tsb adalah bus yg benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu & naik ke bus tsb.

Bus berjalan meninggalkan kota, menuju ke pinggiran kota. Si anjing melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun & bergerak ke depan bus, ia berdiri dgn 2 kakinya & menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya.

Anjing tsb berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti pd suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil & meletakkan kantung plastik pd salah satu anak tangga.

Kemudian, ia mundur, berlari & membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, & kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb. Tdk ada jawaban dr dlm rumah, jd si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil & berjalan sepanjang batas kebun tsb. Ia menghampiri jendela & membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik & menunggu di pintu.

Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu & mulai menyiksa anjing tsb, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.

Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tsb," Apa yg kau lakukan ..??!! Anjing ini adalah anjing yg jenius. Ia dapat masuk televisi untuk kejeniusannya." Pria itu menjawab," Kau katakan anjing ini pintar ...??? Dlm minggu ini sdh dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!!!"

Refleksi :
Cerita ini sering terjadi dlm kehidupan kita. Banyak orang yg tdk pernah puas dgn apa yg telah mereka dpt. Seringkali kita tdk menghargai bawahan kita yg telah bekerja dgn setia selama bertahun2. Seringkali kita juga tdk menghargai atasan kita yg dipakai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita selalu menonjolkan kesalahan & kelemahan tanpa melihat kelebihan & jasa orang lain.

Information From

Kamis, 04 Desember 2008

Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah wajib.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
"Artinya : Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian"[An-Nisaa : 59]
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiyat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan" [1]
Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat." [2]
Apabila mereka memerintahkan perbuatan maksiyat, saat itulah kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : …Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam..." [3]
Ahlus Sunnah memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
"Artinya : Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku." [4]
Imam al-Qadhi 'Ali bin 'Ali bin Muhammad bin Abi al-'Izz ad-Dimasqy (terkenal dengan Ibnu Abil 'Izz wafat th. 792 H) rahimahullah berkata: "Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipatgandakan pahala. Karena Allah Azza wa Jalla tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaaf-kan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan)." [Asy-Syuraa: 30]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman.
"Artinya : Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan"[Al-An'aam: 129]
Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezhaliman itu juga." [5]
Syaikh al-Albani rahimahulah berkata: "Penjelasan di atas sebagai jalan selamat dari kezhaliman para penguasa yang 'warna kulit mereka sama dengan kulit kita, berbicara sama dengan lisan kita' karena itu agar umat Islam selamat:
[1]. Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
[2]. Hendaklah mereka memperbaiki 'aqidah mereka.
[3]. Hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." [Ar-Ra'd: 11]
Ada seorang da'i berkata:
"Tegakkanlah negara Islam di dalam hatimu, niscaya akan tegak Islam di negaramu."
Untuk menghindarkan diri dari kezhaliman penguasa bukan dengan cara menurut sangkaan sebagian orang, yaitu dengan memberontak, mengangkat senjata ataupun dengan cara kudeta, karena yang demikian itu termasuk bid'ah dan menyalahi nash-nash syari'at yang memerintahkan untuk merubah diri kita lebih dahulu. Karena itu harus ada perbaikan kaidah dalam pembinaan, dan pasti Allah menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : ... Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa"[Al-Hajj: 40] [6]
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menganjurkan agar menasihati ulil amri dengan cara yang baik serta mendo'akan amir yang fasiq agar diberi petunjuk untuk melaksanakan kebaikan dan istiqamah di atas kebaikan, karena baiknya mereka bermanfaat untuk ia dan rakyatnya.
Imam al-Barbahari (wafat tahun 329 H) rahimahullah dalam kitabnya, Syarhus Sunnah berkata: "Jika engkau melihat seseorang mendo'akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendo'akan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah."
Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Jikalau aku mempunyai do'a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin." Ia ditanya: "Wahai Abu 'Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?" Beliau berkata: "Apabila do'a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya."
Kita diperintahkan untuk mendo'akan mereka dengan kebaikan bukan keburukan meskipun ia seorang pemimpin yang zhalim lagi jahat karena kezhaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara apabila mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum Muslimin akan merasakan manfaat dari do'anya." [6]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam ASy-Safi'i, Cetakan Ketiga. PO Box 7803/JACC 13340
__________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), Abu Dawud (no. 2625), an-Nasa'i (VII/159-160), Ahmad (I/94), dari Sahabat 'Ali Radhiyallahu 'anhu. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (1/351 no. 181) oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 2955, 7144), Muslim (no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864), an-Nasa'i (VII/160), Ahmad (II/17, 142) dari Sahabat Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma. Lafazh ini adalah lafazh Muslim.
[3]. HR. Ahmad (IV/126,127, Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205) dan al-Hakim (I/95-96), dari Sahabat 'Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lafazh ini milik al-Hakim.
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa'i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[5]. Lihat Syarhul 'Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 543) takhrij dan ta'liq Syu'aib al-Arnauth dan 'Abdullah bin 'Abdul Muhsin at-Turki.
[6]. Lihat Syarhus Sunnah (no. 136), oleh Imam al-Barbahary.

Abu Bakar Ash Shidiq

Kompetensi inti atau kompetensi utama Abu Bakar RA terdiri dari integritas (ING), konsisten dan komitmennya (CO) pada kebenaran, kepemimpinan (Leadership) yang kuat dan kedermawanan (Charitable). Beliau adalah sahabat yang paling mulia setelah Rasululah Orang pertama-tama masuk Islam. Orang yang menggantikan Rasulullah sebagai Imam. Sahabat sejak kecil sekaligus mertua Rasulullah.

ING (Integritas)
Integritas adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaaan yang sulit untuk melakukan ini, dengan kata lain "satunya kata dengan perbuatan". Mengkomunikasikan maksud ide dan perasan secara terbuka,
jujur dan langsung sekalipun dalam negoisasi yang sulit dengan pihak lain.[1]

Begitupun Abu Bakar, ia adalah orang yang memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi. Ini dibuktikan dalam kesederhanaan hidupnya. Serta sikapnya yang sangat cermat, teliti dan hati-hati dalam mengelola kas Negara (baitul maal).

Joesoef Sou'ib dalam bukunya Sejarah Khulafaur Rasyidin menyatakan, meskipun sebagian panglima perang dan pejabat pemerintahan khalifah Abu Bakar hidup dalam kemewahan, namun beliau tetap hidup dalam kesederhanaan.

"... akan tetapi khalifah abu Bakar tetap tinggal dalam rumah biasa di Medinah, hidup sebagai rakyat biasa, membeli kebutuhannya di pasar dan menjadi imam setiap sholat lima waktu."[2]

"Sejarah mencatat bahwa masa pemerintahannya yang 2 tahun 3 bulan itu, Abu Bakar hanya mengeluarkan 8.000 (delapan ribu) dirham[3] dari Baitul Maal bagi keperluan keluarganya."[4] Beliau juga menolak mengambil dari Baitul Maal melebihi dari kebutuhan hidupnya.[5]

"... Abu Bakar wafat meninggalkan seekor unta, ember, susu dan baju resmi, serta dengan gigih mengembalikannya ke Baitul Maal."[6] Adakah pejabat di negeri ini seperti beliau? Atau justru mobil, uang, deposito, rumah, perusahaan dan tanah mereka semakin banyak serta semakin sulit dihitung oleh KPK.
Abu Bakar juga termasuk orang yang dapat dipercaya dan sangat dipercaya oleh Rasulullah ??? ???? ???? ?????. Rasulullah berkata, "Tidak kuajak seorangpun masuk Islam melainkan ia ragu dan bimbang, kecuali Abu Bakar." (Riwayat Ibnu Ishaq).[7]
Ia adalah teman setia Rasulullah dalam perjalanan hijrah. Dan yang menemani beliau ketika di gua Tsur. Beliau juga tidak pernah absen dalam semua peperangan bersama Rasulullah.[8] Kalau bukan orang terpercaya tentu Rasulullah tidak akan mengajak Abu Bakar dalam perjalanan yang sangat rahasia dan sangat berbahaya ini.

Bahkan ketika Rasulullah melakukan Isra' Mi'raj dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha kemudian naik ke langit tujuh, banyak orang musyrik yang tidak percaya. Lalu mereka mendatangi Abu Bakar dengan harapan Abu Bakar akan menolaknya.

Tetapi ternyata Abu Bakar mejawab, "Jika memang benar Muhammad yang mengatakannya, maka ia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari itu."[9] Karena itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash Shidiq.

Komitmen Pada Jama'ah (Commitmen to Organization)

Kompetensi inti (core) lainnya dari Abu Bakar adalah komitmennya pada organisasi (jama'ah). Komitmen Organisasi adalah kemampuan dan kemauan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dengan kebutuhan, perioritas dan sasaran organisasi, ini mencakup cara-cara mengembangkan tujuan atau memenuhi kebutuhan organisasi. Intinya adalah mendahulukan misi organisasi dari pada kepentingan pribadi.[10]

Dalam bahasa penulis adalah mendahulukan kepentingan umat dan jama'ah kaum muslimin di atas kepentingan pribadi. Jama'ah juga berarti komitmen kepada kebenaran.

Dan Abu Bakar adalah orang yang sangat mendahulukan kepentingan umatnya/kaum muslimin serta sangat komitmen dengan kebenaran.
Contohnya, setelah diangkat sebagai khalifah, beliau berkhutbah dan berpidato di atas mimbar Masjid Nabawi :
Hai orang banyak semuanya
Aku diangkat mengepalai kalian
Dan aku bukanlah yang terbaik diantara kalian
Jika aku membuat kebaikan
Maka dukunglah aku
Jika aku membuat kejelekan
Maka luruskanlah aku
Kebenaran itu suatu amanat
Dan kebohonganitu suatu khianat
Yang terlemah diantara kalian aku anggap yang terkuat sampai aku mengambil dan memulangkan haknya.
Yang terkuat diantara kalian aku anggap yang terlemah sampai aku mengambil hak si lemah dari tangannya. Janganlah seorangpun diantara kalian meninggalkan jihad Kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah.Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya.
Bila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya tidak ada kewajiban patuh kepadaku
Kini marilah kita melakukan sholat
Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian[11]
Coba anda cari pemimpin di dunia yang siap dikritik jika melakukan kesalahan dan kejahatan. Pemimpin-pemimpin kerdil itu justru memberangus, memenjarakan dan membunuh orang-orang yang mengkritiknya.

Beliau juga sangat komitmen dalam tugasnya menjaga kemurnian ajaran Islam. Karena pada saat itu terjadi banyak kesesatan seperti lahirnya nabi palsu Musailamah Al Kadzab la'natullah, gerakan pemurtadan (riddah) dan pembangkangan.

Sejarawan Islam Joesoef Sou'yb mencatat, "Wafatnya Rasululah telah menimbulkan kegoncangan di semenanjung Arabia. Timbul gerakan riddat disana-sini. Yakni gerakan membelot dari agama Islam. Hampir seuruh kabilah-kabilah di luar kota Madinah dan Mekah terlibat dalam gerakan riddat. Begitupun kerajaan-kerajaan setempat pada belahan selatan Arabia. Peristiwa itu menimbulkan kecemasan yang besar di ibukota Madinah Al Munawwarah."[12]

Dalam kondisi seperti ini tampak jelas kompetensi Abu Bakar dalam membela kebenaran sekaligus juga kuatnya karakter kepemimpinan (Leadership)dan keberanian beliau.

Dengan komitmen dan tekad yang bulat Abu Bakar mengirimkan pasukan untuk memberantas para pemeberontak agama tersebut. Akhirnya beliau berhasil mengatasi ujian berat ini. Beliau berhasil menumpas kaum riddat di Bahrain, Oman, Mahra, Hadralmaut dan Yaman.[13]

Komitmen dalam kebenaran ini juga ditunjukkan dalam sikapnya untuk selalu memenuhi hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia. Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :
"Siapa diantara kalian yang berpuasa hari ini?", "Saya jawab Abu Bakar.". Siapa yang mengiringi jenazah pada hari ini?, "Saya jawab Abu Bakar." Siapa diantara kalian yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?, "Saya jawab Abu Bakar." (HR Muslim).[14]

Team Leadership (TL) Abu Bakar
Kepemimpinan Abu Bakar terlihat pada sikapnya dalam membela kebenaran dan menumpas gerakan pemurtadan & nabi palsu sebagaimana telah dijelaskan di atas.Bukti ini juga terlihat dalam debat yang seru antara beliau dan Umar bin Khattab dalam mensikapi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.Umar berpendirian bahwa mereka tidak perlu diperangi selama mereka masih sholat. Sementara Abu Bakar berpendirian untuk memerangi dan menumpas orang yang memisahkan antara sholat dan zakat. Sebab zakat adalah bagian dari rukun Islam. Maka jika salah satunya roboh maka robohlah rukun Islam. Yang berarti keluar dari Islam (murtad).Bukti lainnya adalah terlihat dalam debat yang seru antara beliau dan Umar bin Khattab dalam mensikapi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Umar berpendirian bahwa mereka tidak perlu diperangi selama mereka masih sholat. Sementara Abu Bakar berpendirian untuk memerangi dan menumpas orang yang memisahkan antara sholat dan zakat. Sebab zakat adalah bagian dari rukun Islam. Maka jika salah satunya roboh maka robohlah rukun Islam. Yang berarti keluar dari Islam (murtad).

Bukti lainnya adalah hanya Abu Bakar (diantara para sahabat) yang mampu meng-Islamkan seluruh anggota keluarganya. Beliau meng-Islamkan bapak dan ibunya. Semua anak laki-lakinya yaitu Abdullah, Abdurrahman dan Muhammad. Dan anak-anak perempuannya yaitu Asma', Aisyah dan Ummi Habibah.

Beliau juga meng-Islamkan semua istri-istrinya. Qatilah, Ummi Ruman dan Asma' binti Umais dan Habibah binti Kharijah Radiyallahu 'anhum.[1]

Selain itu beliau juga meng-Islamkan sahabat-sahabat terkemuka. Seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqash, Thallah bin Ubaidilah dan Abu Ubaydah bin Jarrah Radhiyallahu 'anhum. Semuanya termasuk orang-orang yang dijamin masuk syurga.[2]

Charitable (CH)- Kedermawanan Abu Bakar
Beliau adalah saudagar yang kaya raya. Dengan hartanya ia bebaskan para budak. Yaitu Bilal, Amir ibnu Fuhairah, Zunairah, Nahdiyah dan putrinya, Jariyah binti Mua'amil dan Ummu Ubays.[3]
Abu Bakar RA juga sangat dermawan. Namun hidupnya sangat sederhana. 'Aisyah berkata, "Abu Bakar menginfakkan 4.000 dirham kepada Nabi SAW." "Ketika meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan satu dinar dan tidak pula satu dirhampun. " kata putrinya 'Aisyah RA.[4]
Padahal kita tahu beliau adalah khalifah. Seorang kepala negara yang memiliki kedudukan tertinggi dalam pemerintahan.
Bahkan menurut riwayat beliau pernah menyumbangan seluruh hartanya untuk dakwah Islam. Sampai-sampai Rasulullah bertanya, "Lalu apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?". Abu Bakar menjawab, "Allah dan Rasul-Nya."[5]

[1]Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Ilmu dan Ulama, Pustaka Azzam (Jakarta:2001), hal. 164.
[2]Ibid Muhammad Sa'id Mursi, hal. 6.
[3]Ibid hal. 6.
[4]Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, Pustaka Azzam (Jakarta:2006), jilid 18, hal. 397. 1 dirham = 3,5 gram perak.
[5]Khalid Muhammad Khalid hal. 81.

----------------------------------------------------------

[1]Joko Siswanto, Materi Pelatihan SDM, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi
[2]Joesoef Sou'yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang (Jakarta:1979), hal. 132.
[3]1 dirham setara dengan 3.5 gram perak.
[4]Joesoef Sou'yb, hal 133.
[5]Khalid Muhammad Khalid, Kehidupan Para Khalifah teladan, Pustaka Amani (Jakarta:1995), hal. 81
[6]Ibid
[7]Syaikh Muhammad Sa'id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar islam Sepanjang Sejarah, Pustaka Al Kautsar (Jakarta:2007), hal. 6.
[8]Ibid hal. 8.
[9]Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthy, Sirah Nabawiyah, Rabbani Press (Jakarta:1992), Buku Kesatu, hal. 193.
[10]Joko Siswanto, Materi pelatihan Manajemen SDM Berbasis Kompetesi.
[11]Joesoef Sou'yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang (Jakarta:1979), hal. 26-27. Pidato tersebut dilakukan menjelang sholat Isya'
[12]Ibid hal. 31.
[13]Ibid hal. 77-84.
[14]Ibid hal. 7.

Jumat, 28 November 2008

Antara Sebab & Akibat

Bagian dari pasal Hukum Alam ini berbunyi kurnag lebih sebagai berikut: "Semua peristiwa diciptakan oleh penyebab (the cause) atau kalau dibalik: peristiwa hanyalah hasil/akibat (effect)". Sampai pada pengertian ini tidak ada yang merasa sulit memahaminya. Tetapi ketika dikaitkan dengan diri kita dan realita hidup yang kita terima, barulah menjadi persoalan tersendiri. Konon Mark Victor Hansen, pengarang buku berseri Chicken Soap for the Soul harus memutar pertanyaan antara "are you the cause or the effect?" sebanyak 287 (dua ratus delapan puluh tujuh) kali untuk memastikan pilihan setelah mengalami kebangkrutan bisnis secara total yang memaksanya hidup menggelandang. Ia akhirnya memilih bahwa semua peristiwa hidup (realita) adalah ‘effect’ dan dirinyalah ‘the cause’ itu. Karena Mark yakin bahwa masih banyak individu yang berpikir sebaliknya, maka ia menuangkan pikiran-pikirannya dalam buku tersebut diatas. Karya Mark telah menjadi best seller dan mengantarkannya menerima piala Horatio Alger Award.

Tak syak lagi, kalau kita amati sebenarnya problem hidup Mark adalah representasi dari problem besar umat manusia terlepas apakah hal itu disadari atau tidak sama sekali. Problem tersebut terletak pada penyikapan pilihan. Ada yang memilih bahwa realita yang dihadapi adalah penyebab mengapa dirinya menjadi seperti sekarang ini. Tak terhitung jumlah kejahatan dalam berita TV dari mulai level kecil sampai besar yang diakui oleh pelakunya karena ‘dipaksa’ oleh keadaan. Ungkapan dipaksa dalam berbagai variasinya merupakan indikator bahwa individu tersebut sebenarnya menjadi korban (effect).

Pilihan

Memang tidak akan ada lembaga pengadilan manapun yang memveto hukuman atas pilihan kita antara sebagai the cause atau the effect. Tetapi pilihan kita menciptakan konsekuensi yang sangat membedakan. Kalau kita memilih sebagai the effect, maka penyikapan hidup yang paling dekat adalah adanya resistensi untuk mengubah diri dan berarti telah melawan pasal hukum alam lain lagi bahwa semua kemampuan aktif manusia diperoleh dengan cara menjalani proses pembelajaran (baca: mengubah diri dari ketidakmampuan masa lalu menjadi kemampuan baru). Lebih sering lagi, kesadaran sebagai the effect mudah menyulut kita untuk menyalahkan orang lain dan keadaan ketika effect yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan atau yang diharapkan.

Sementara dengan memilih sebagai the cause, optimalisasi dan kontrol berada di tangan kita. Di level pengetahuan, rasanya tidak sulit menebak kalau dikatakan semua orang ingin menjadi the cause bagi dirinya. Tetapi yang dibutuhkan bukan sekedar mengetahui melainkan apa yang disebut oleh Mark dengan “Awakening Call”, sebuah kesadaran baru adanya panggilan untuk mengubah diri dari the effect ke the cause. Kesadaran baru demikian bukanlah anugerah melainkan murni proses pencapaian yang dibarengi dengan menyingkirkan benda-benda yang tidak kita butuhkan tetapi kita abadikan di dalam sehingga benda tersebut benar-benar menjadi penghalang transformasi.

Membiarkan

Salah satu penghalang transformasi kesadaran adalah tembok yang sering diistilah dengan sebutan “Self-excusing”. Dari pendapat para pakar ditemukan perbedaan mendasar antara self excusing dengan self-forgiving meskipun sama-sama punya arti literal ‘memaafkan’. Self excusing adalah membiarkan diri anda tak terurusi (letting yourself down), sementara self-forgiving adalah memaafkan dalam arti mengakui kesalahan dan bergerak (moving & acknowledging) untuk membenarkannya (Frank Gilbert: 1999). Dengan kata lain, self-excusing adalah penyikapan yang kurang gagah menghadapi diri atau rasa tidak percaya diri (low self confidence) mulai dari domain cara pikir (mindset) sampai ke tindakan. Umumnya kita lebih terfokus untuk memasang mekanisme penyerangan agar bisa lebih gagah menghadapi orang lain dan sebaliknya menghadapi diri sendiri sering membuat kita minder. Jadi telah terjadi pemutarbalikan fungsi kegagahan.

Mekanisme self-excusing diungkapkan melalui berbagai macam bentuk mulai dari pemikiran, perasaan, keyakinan, dan tindakan. Sebagian di antaranya dapat disebutkan di sini:

1. Pembenaran Diri

Keinginan kita untuk berubah terhalang oleh keyakinan atas kebenaran sendiri yang berlawaan dengan kebenaran universal (the universal principles). Jika kita meyakini kalau tidak melanggar aturan kita tidak akan hidup maka keyakinan demikian akan membuat kita menjadi korban karena keyakinan itulah yang akan menjadi realita hidup. Padahal peristiwa yang sebenarnya terjadi adalah murni masalah model penyikapan yang kita pilih.

2. Penipuan Diri

Transformasi kesadaan dari the effect ke the cause juga dihalangi oleh mekanisme ‘politicking’ atau menipu diri secara halus. Contoh yang sering dibuktikan oleh realita adalah kemandirian orang cacat (maaf, misalnya orang buta) yang menolak menipu-diri dengan menjalani profesi tertentu seperti ahli pijat, tokoh masyarakat. Logikanya, kalau ada orang cacat fisik bisa mandiri berarti tidak akan ada orang normal yang tidak bisa hidup mandiri. Tetapi kenyataan yang terjadi tidak demikian. Mandiri dan tidak mandiri tidak ada hubungan mutlak dengan kenormalan fisik tetapi berhubungan dengan kualitas menolak politiciking. Memanjakan diri juga sering menjebak kita pada praktek politicking di mana kita merasa tidak mampu mengoptimalkan potensi.

3. Perbandingan

Mekanisme perbandingan yang sering menghalangi transformasi adalah perbandingan dalam hal negatif. Begitu kita membandingkan dengan sisi kelemahan/kejelekan orang lain, maka yang muncul adalah semangat untuk membiarkan diri . Perbandingan yang dianjurkan adalah membandingkan keunggulan orang lain dengan diri kita untuk dipelajari. Atau dalam bisnis dikenal dengan istilah kompetisi, bukan kongkurensi

4. Kerelaan Menjadi Korban

Mekanisme yang biasa kita terapkan untuk merelakan-diri adalah menuding orang lain atau keadaan sebagai penyebab yang menghalangi kita menjadi the cause atas diri kita. Biasanya kerelaan ini disebabkan oleh kesalahan membuat kalkulasi ukuran diri dan ukuran masalah yang kita hadapi atau ketidakmampuan mengambil keputusan berdasarkan fakta aktual tentang diri kita (who are we?).

5. Penolakan Tanggung Jawab

Mekanisme menolak adalah pembatas yang kita ciptakan sendiri atau kesengajaan untuk menghentikan perjalanan proses transformasi di dalam diri yang umumnya tidak kita sadari. “Orang miskin seperti saya mana mungkin bisa menjadi kaya”. Ungkapan demikian adalah pernyataan-diri bahwa kita dengan demikian tidak dikenai tanggung jawab untuk mengubahnya dan melemparkan tanggung jawab ini kepada orang lain yang kita anggap harus bertanggung jawab.

6. Penolakan Konsekuensi

Apapun yang kita pilih akan melahirkan konsekuensi tertentu yang apabila kita terima dengan pengakuan dan pemahaman akan mendekatkan jarak transformasi dari the effect ke the cause. Tetapi, umumnya kita menciptakan pilihan dan menolak konsekuensi yang muncul kemudian. Kalau kita memilih tidak mau mengembangkan diri, mestinya secara rasional kita merelakan diri dengan konsekuensi ketinggalan, bukan menyalahkan orang lain yang lebih maju. Dengan menolak berarti memperlambat proses transformasi.

7. Kebrutalan

Kebrutalan (dehumanization) adalah mekanisme menolak kebenaran yang diyakini. Orang bisa bertindak brutal kalau dirinya mengunci hati, pendengaran dan penglihatan. Bahkan kebrutalan tersebut akan semakin menjadi-jadi ketika tidak secara cepat dilakukan upaya menarik diri. Mekanisme demikian jelas akan menghalangi proses transformasi kesadaran dari the effect ke the cause.

Evolusi Diri

Self-excusing yang menghalangi kita menyadari sebagai the cause dari realita yang kita terima saat ini merupakan produk yang dihasilkan oleh sejumlah pilihan yang berlangsung sejak kecil tepatnya usia remaja di mana kita baru mulai bersentuhan dengan konflik. Dapat dipastikan, kebanyakan orang memiliki ketujuh hambatan di atas atau lebih, tetapi yang membedakan adalah kandungan kadarnya. Untuk menentukan jumlah kadar yang terberat dibutuhkan penemuan terhadap prinsip hidup (pendirian), nilai/keyakinan, cita-cita yang telah dirumuskan ke dalam tujuan hidup dan posisi di mana kita berada saat ini. Perubahan diri yang tidak diberangkatkan pada aspek kedirian yang mendasar seringkali kalah oleh virus kehidupan yang membuat keinginan berubah dari the effect ke the cause menjadi keinginan umum yang tidak punya nyali.

Adapun alasan mengapa lebih tepat memilih jurus evolusi ketimbang revolusi adalah karena perubahan diri identik dengan perubahan nasib (peristiwa yang secara sirkulatif/repetitif terjadi). Untuk mengubah nasib memang di atas kertas putih membutuhkan dunia baru tetapi pada prakteknya kenyataan sering menunjukkan bahwa hal tersebut tidak membutuhkan perubahan peristiwa eksternal. Mungkin lebih tepat kalau dikatakan, dunia baru dibutuhkan tetapi bukan syarat mutlak kalau memang tidak bisa dilakukan sekarang ini, tetapi yang mutlak dibutuhkan adalah diri yang baru (sikap, pola pikir dan perilaku baru).

Langkah evolutif yang dapat kita jalankan untuk mengubah diri (menjalankan transformasi kesadaran) adalah:

1. Menyadari

Orang akan tetap mempertahankan diri meskipun salah, jika dirinya tidak sadar bahwa kesalahan itu memang benar-benar salah. Teori manajemen menjelaskan, perubahan harus diawali dengan proses kesadaran membuat identifikasi tentang apa/bagian mana yang kita inginkan untuk diubah dan mengapa perubahan tersebut kita inginkan (baca: alasan paling mengakar). Dalam hal ini perlu kita ingat bahwa kesadaran tersebut harus menyatakan keinginan bukan ketakutan. Jika ini yang terjadi maka yang diketahui seseorang hanyalah bagaimana menghindari kegagalan, bukan meraih kesuksesan.

2. Mengganti

Apa yang telah kita sadari untuk diubah itulah yang harus kita ganti. Begitu kita menyadari adanya godaan untuk menggunakan kebenaran sendiri, segera kita ganti dengan lawannya. Tehnik lain adalah dengan cara challenging (menantang) bahwa kita melawan bentuk keyakinan, pemikiran, dan perasan yang kita yakini salah. Tehnik lain lagi adalah membuat affirmasi secara berulang-ulang (baca: metode dzikir) ketika kesadaran muncul saat dialog-diri berlangsung. Ketiga tehnik ini dapat mempertebal kualitas, apa yang sering disebut ‘the moment of truth’ atau ‘critical accident’ di mana kita memiliki ‘personal picture’ yang lebih jelas seperti yang kita inginkan atau cara pendekatan yang lebih gamblang bagaimana mengubah diri.

3. Mengintrospeksi

Untuk mendeteksi sejauhmana stabilitas transformasi telah berlangsung, maka kita membutuhkan intropeksi. Di sini yang kita lakukan adalah membuat penilaian apa yang sudah diraih dan apalagi yang perlu untuk dilakukan. Di samping itu instropeksi juga berguna untuk mendeteksi kadar self-excusing yang bisa jadi masih tetap bercokol dalam diri kita hanya gara-gara lupa membuat elaborasi, analogi, atau interpretasi dalam memahami dan melaksanakan. Misalnya saja politicking. Kalau praktek yang kita rekam sejelas perbedaan antara orang buta yang mandiri dan orang normal yang tidak mandiri, pikiran kita bisa langsung paham tetapi bagaimana dengan mentalitas ‘begging’ (baca: meminta-minta, bukan meminta) yang di-politicking? Memang diperlukan pengakuan yang jujur untuk berani mengatakan kitalah yang menjadi penyebab ‘nasib’ kita hari ini.

Selamat memilih.

Sumber: e-psikologi

Jumat, 21 November 2008

Akulturasi Materi Training

Oleh : Reza Ervani
Agrabinta, Cianjur Selatan
Tempat training itu sederhana sekali. Sebuah lapangan luas di depan sebuah SD Inpres sederhana. Sebuah panggung permanen di bagian barat lapangan memang dirancang untuk acara-acara rakyat.
Aku baru saja menyelesaikan sholat zuhur di surau kecil yang cukup luas. Udara yang berhembus sepoi-sepoi, menelisik di sela lubang-lubang kecil di dinding, dingin tapi menyegarkan. Lantainya juga dari anyaman bambu, tidak langsung menyentuh tanah, karena sengaja dibuat sedikit tinggi, semacam rumah panggung. Rehal diselip-selipkan di kayu penahan dinding. Quran dan kitab barjanzi tampak disekitarnya.
Dikanan ada balong yang cukup lebar, biasa digunakan untuk berwudhu. Pepohonan bambu tampak sejauh mata memadang. Tumbuh di lengkungan lembah dan bukit, tersusun dan terukur dengan presisi. Gerak lembut dedaunan mengikuti irama angin, menambah segar hati. Gemerisik daun sesekali ditingkahi dengan suara kambing dan meuri. Membuat mau tak mau bibir menyunggingkan senyum. Harmoni khas Cianjur Selatan. Berdiri memandang semuanya sungguh membuat tak henti-hentinya bibir mensucikan namaNya.
Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, (Al Quran Al Karim Surah. Qaaf ayat 7)
Maha Suci Allah.
Indonesia memang luar biasa. Semua gambaran tentang surga di dalam Kitab Suci ada disini. Mata air jernih dan sungai yang mengalir, buah-buahan yang muah memetiknya, sutera halus yang hijau, sutera tebal, semuanya bisa engkau dapatkan disini.
Indah ... Sangat Indah
Tak banyak yang tahu kalau aku berdarah Sumatera, lahir jauh di seberang sana. Perpaduan budaya Melayu dan Sunda memberikan cara pandang sendiri tentang negeri cantik ini. Menumbuhkan cinta yang membuncah setiap bercerita tentang bangsa ini.
Suatu saat aku ingin sekali mendengar kolaborasi akordeon dan biola Melayu dengan kacapi suling Sunda. Yang diengarkan sambil menyantap mi lakse dan kue bingke juga nasi liwet dan lalapan. Berbalas pantun dan melantunkan pupuh.
Aku acap kali merenung. Betapa sedikitnya yang kutahu tentang tanah air ini.
Bukankah ada hikmah kenapa setiap Nabi diturunkan dalam bahasa ummatnya. Jadi kenapa pula diri ini tak belajar berbahasa dengan bahasa pribumi dalam bernasehat.
Ada teori psikologi sosial yang kaya di sudut-sudut kehidupan negeri.
Kau tak perlu ambil sepenggal cerita dari Chicken Soup for Parent’s Soul, karena di negeri ini tiap lebaran, sang anak rela berkeringat di kereta-kereta kumuh hanya untuk mencium tangan keriput ibu dan ayahnya. Menangis dalam-dalam mereka jika kesempatan itu mereka lewatkan dan harus menunggu tahun depan.
Ada ribuan Totto Chan di pintu-pintu sekolah kampung. Kaki mereka kuat, karena cinta guru ngajinya membuat tiap senja melangkah di pematang. Bahkan dulu ketika aku kecil, kami berbaris masuk kelas, satu persatu mencium tangan kanan guru yang tangan kirinya membelai lembut kepala mungil kami.
Disini trainer mereka sebut ajengan dan kiyai. Trainee mereka sebut santri dan Experiential Learning mereka bahasakan dengan amal.
Ah, apapun itu ... Aku Cinta Negeriku, Aku Cinta Indonesia ...
Salam,
Al Faqir Reza Ervani
0818648142

Information From

Sabtu, 01 November 2008

A Leadership Publication

Destroyers of Trust

Trust is fragile. The most difficult thing to build in an organization is trust. It takes years to build trust but only moments to break it. Once broken, trust takes a long time to be repaired, rebuilt and reconstituted.


Nobody will deny that trust is critical. Research studies have demonstrated the link between trust and corporate performance. Writers Robert Galford and Anne Drapeau conclude, "If people trust their leaders and each other, they will be able to work through disagreements. They take smarter risks. They'll work harder, stay with the company longer, and contribute better ideas."
But trust is a rare commodity. And many leaders do not spend time to thinkabout building trust or making effort to sustain it. What will break trust?

1. Lack of Leadership Integrity
Integrity is one of the biggest challenges in business today. It comes from the same root word as "integral", which means wholeness, completeness or consistency. In other words, there is a "connect" between attitude and behavior, saying and doing, external and internal. It is having everything together.
So, when leaders don't keep their promises, they break trust. For example, they may promise a last lay off, but it turns out not to be so. Worse still, when they don't own their mistakes and try to wrangle their way out, trust will corrode. Studies have shown that leaders who are prepared to own up to their faults are more likely to be trusted by their followers.
Another aspect of integrity has to do with moral authority. Leaders who have moral lapses, no matter how competent they may be, will destroy trust. It is no wonder that when leaders who cheat, are dishonest, or commit adultery, are perceived to be less than trustworthy.

2. Leadership Incompetence or Toleration of Incompetence
The inability to lead is another factor that will erode trust. When leaders consistently cannot see a real problem that is so obvious to the rest of the team and insist that they are right, people will lose confidence in them. When corporate leaders (unless the original word corporates is a technical term here) consistently under-perform, staff will become jittery. Look at Kodak and Polaroid in their times of decline. People will spend more time thinking about their exit.
When leaders fail to deliver or unable to galvanize their teams to meet company's objectives, people become disengaged and disillusioned. They will lose faith in their leaders.
Another source of disillusionment is the leaders' tolerance of incompetence and promotion of poor performing staff. Everyone is stupefied by the decision but quietly accepts it. But trust is slowly eroded if the leaders do not change course.

3. Political In-fighting
Another source of distrust is in-fighting among executives. The Marketing Manager cannot get along with the Finance Manager and they constantly jibe and criticize each other publicly at meetings. If leaders don't manage these conflicts, soon the staff will lose faith and become disengaged. One senior manager, frustrated with in-fighting, complains, "How can I trust the leadership when they can't even trust themselves?"
One manager carps, "I have received nasty emails about another manager from my peer that was not meant for me and I shudder to think about the kind of politics in the office. It makes me sick!" No wonder, people despair about their leaders.
Another source of trust destroyers is sharp caustic attacks of leaders by people with a cloud of negativity. These are people who may have been by-passed in promotion, or feel shortchanged in their bonuses. They see only the negatives and downsides of the company.
The perpetual complainants may not outwardly sabotaged the company but their negativity may rub on to their co-workers. And soon, trust is undermined.

4. Consistent Non Communication, Poor Communication or Inconsistent Communication
In crisis, some leaders refuse to communicate for fear of being misrepresented. They have the mistaken notion that silence is golden. But non-communication is still communication. Usually, people will invent their own messages, deliberately distort messages and spread rumors. It is better to communicate the little we know and explain what we do not know.
Don't ignore things when everyone already knows what is going to happen. Don't underestimate the power of the grapevine. Honest, regular open communication will build trust.
In some organizations, people are bombarded with myriads of contradictory and inconsistent messages every day. Badly phrased or unsolicited designated emails can create disharmony and disrupt workflow. Confusion will arise and this will diminish trust.
Sometimes, managers send inconsistent messages. They tell their
subordinates what they want to hear and suppress information to their
bosses. They are driven by self-interests.


Ensuring messages are communicated consistently is important. And
don't rely on emails alone to do your communication. Say the same message
consistently in as many different ways as you know how until it sticks. It
has been estimated that it takes about 6 times before the message gets
understood and owned.


5. Treating People Unfairly


When staff realize that their managers are playing favorites and
practicing cronyism, they will lose trust. When promotions are based on
'who they know' rather than 'what they do', people will distance themselves
from their leaders.


When star performers persistently bend the rules while the rest toe
the line, this, too, will breed mistrust. Leaders, who play the blame game
and take credit for success not of their own making, can frustrate their
followers. People don't treat leaders too kindly when they change rules to
suit themselves.


Fairness has to do with transparent policies that are communicated
clearly and practiced consistently. If exceptions are made, explanations
should be forth coming or else people will lose trust in the leadership.


What happens when trust is eroded?


1. Leadership Is Destroyed


The first victim of mistrust is the leadership. People question the
moral authority of the leaders. They grumble about their unrealistic goals.
They instigate rebellion. They engage in unproductive activities by
focusing on the negative attributes of the leaders and the organization.


Worse still, they become counter-productive by attacking the
leadership, championing their self-interests to the detriment of
organization's goals, and alleviating conflict to unmanageable levels.


Very soon, there is widespread resentment against the leadership.
Distrust cuts deep into the root of leadership and paralyzes the
organization.


2. Staff Is Demoralized


When there is a lack of trust, people become suspicious. They begin to
define their work territory. They polarize into their functional roles and
departmental roles. People become less cooperative and more demanding.
There is a little tolerance for errors and mistakes. As a result, the
morale of the staff is abysmal and relationships sour. This will affect the
productivity of the people.


3. Productivity Is Diminished


The final outcome of the erosion of trust is the demise of
productivity and eventually, the organization. Demoralized staff can never
perform to their maximum capacity.


It is like a choked pipe in which water cannot flow freely. Instead,
it spews out rubbish. Clock-watching becomes the norm. Quality is
compromised. Initiative is stifled. Creativity is choked. Nobody takes
ownership of quality product or service. Under-performance becomes the
order of the day. Good performers disappear.


Hence, when trust is broken, the leaders' chief responsibility must be to
build trust, restore and maintain it. Kouses & Posner suggest that leaders need
to ask themselves four questions:


1. Is my behavior predictable or erratic?


2. Do I communicate clearly or carelessly?


3. Do I treat promises seriously or lightly?

4. Am I forthright or dishonest?

Failure to do so will lead to the leaders' own demise.




Copyright © 2004 Meta HR & Communication

For past articles on MetaTrends, please log in http://www.meta.com.sg



Information From A Leadership Publication of Meta HR & Communication. Issue 16, October 2003