Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juli 2017

Muhammad Faiq Al Barry

Anak nomer loro ki... nembe iso upload meneh sing lahir 10 November 2015



Dolanan dewe




Iki pas perjalanan neng Suroboyo Mejid Bojonegoro



Mangan ki... pas bodo 2017





Badan neng omahe mbahe Blok U ITS







Badan Neng Pakis Kediri karo mbahe

Rabu, 07 Januari 2015

Turunkan Iklan Rokok yang tidak Senonoh

SURAT TERBUKA KEPADA PT HM SAMPOERNA Tbk: 
Turunkan Iklan Rokok yang tidak Senonoh

Beberapa hari ini, di jalan-jalan  strategis  di kota Jakarta, kita bisa menemukan billboard iklan rokok Sampoerna A Mild yang menggambarkan  seorang laki-laki sedang  merangkul punggung seorang perempuan dengan mesra. Gambar tersebut dipadukan dengan sebuah tagline bertajuk “Mula mula Malu malu Lama lama Mau”,  seolah mengindikasikan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan itu pada mula-mulanya malu-malu tetapi lama-lama mau.

Tagline dan gambar pasangan dalam iklan Sampoerna A Mild tersebut seharusnya tidak pantas untuk ditampilkan, karena visualisasi atas gambar dan tagline dapat ditafsirkan untuk hal-hal yang tidak senonoh dan bertentangan dengan norma sosial yang ada di masyarakat.

Kami menyayangkan mengapa pihak produsen rokok Sampoerna A Mild (PT HM Sampoerna Tbk) memilih visualisasi iklan pasangan muda mudi tersebut, yang tidak mencerminkan budaya ketimuran. Apalagi iklan tersebut ditempatkan di tempat umum, yang bisa dilihat oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Kami khawatir tampilan iklan yang mengumbar perilaku yang bebas bisa memberikan dampak yang buruk terhadap perkembangan psikologi anak. Mereka akan menyerap iklan tersebut menjadi sebuah hal yang lazim, dan bahwa berpacaran dan berpelukan di depan umum dapat diterima sebagai suatu hal yang patut.

Karena itu, melalui Surat Terbuka ini,  kami menyampaikan protes keras kepada PT HM. Sampoerna Tbk  sebagai produsen rokok Sampoerna A Mild , dan menyerukan agar :
1.  PT HM Sampoerna  Tbk menghentikan penayangan iklan rokok Sampoerna A Mild  versi “Mula mula Malu malu Lama lama Mau” tersebut  di seluruh wilayah Indonesia.
2.  PT HM Sampoerna Tbk meminta maaf kepada  masyarakat Indonesia karena telah menyajikan tampilan visualisasi iklan yang tidak mencerminkan budaya ketimuran, dan menempatkan iklan tersebut di titik-titik strategis yang dapat diakses oleh anak-anak yang seharusnya belum patut menerima terpaan gambar tersebut.
Demikianlah surat terbuka ini kami sampaikan untuk menjadi perhatian.


Jakarta, 5 Januari 2015


Atas nama
Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Perlindungan Anak dari Zat Adiktif
Hery Chariansyah, SH


Source : Republika


Selasa, 11 Februari 2014

Doa Seorang Calon Pengantin

Kalaulah ada kisah di zaman dahulu bahwa ada satu orang di antara tiga orang yang bisa bertawasul dengan amalannya untuk bisa membuka batu yang menghimpit pintu gua, maka aku tertarik dengan tawasulnya. Demi untuk menghindari zina dengan perempuan yang diberinya uang dengan tebusan tubuhnya walaupun ia mudah melakukannya.

Kalaulah ada kisah tentang pernikahan dan syarat maharnya, maka kisah Ummu Sulaim yang merelakan keIslaman Abu Tholhah adalah sungguh mengharukan. Dan juga kesederhanaan Ali ra menikahi Fathimah dengan baju besinya.

Saksikanlah ya Robbi, aku pun ingin menjadi Ummu Sulim dan Fathimah. Keduanya tidak mensyaratkan emas dan berlian sebagai penebusan kehalalan calon suami menyentuh tubuhnya.

Cukup dengan hafalan surat Ar-Rahman dan tafsir Ibnu kastir. Itupun masih dengan keringanan, tafsirnya boleh dicicil setelah kami menikah nanti.

Saksikanlah ya Robbi.aku pun ingin mencontoh sang lelaki yang terjebak di gua tadi. Aku pun ingin bertawasul dengan upayaku untuk menghindari zina. Walapun peluang ke sana sangat mungkin.

Banyak lelaki yang mengincarku sejak wajahku memancarkan pesonanya di bangku SMA. Tapi aku takut untuk pacaran. Aku bertekad bahwa cinta yang satu itu hanya kuberikan pada lelaki yang halal untuk memuaskan libidoku dan menjadi salah satu pembuka jalan menggapai surga-Mu

Maka saat kuputuskan setelah hari-hari berkonsultasi dalam sujud-sujud istikharah 3 bulan yang lalu untuk mengucapkan "ya", aku berusaha untuk tidak mendapat murka-Mu, dengan berlama-lama dalam waktu atau menunda-nundanya, sehingga terjebak dalam rimba cinta tanpa status dan fitnah dunia.

Pun kuberusaha menangkis serangan kata-kata romantisnya untuk ditunda hingga saat dia menucapkan "qobiltu nikahaha." (kuterima nikahnya).

Maaf ya Allah, jika hari ini aku harus banjir air mata, saat aku baru bisa menjawab pertanyaan orangtuaku, "Kamu punya uang tho untuk menikah?". "Ya insya Allah diusahakan dan mohon waktunya."

Walaupun aku tahu sekarang hanya beberapa lembar puluhan ribu hasil sisa kas bon di tempat kerjaku yang kupersiapkan untuk bekal sisa bulan ini. "Pokoknya minimal 6-7 juta harus ada lho, ya", begitu suara ibu di sebrang memberi batas minimal dana yang harus kusediakan.

Ya.Rozak aku yakin Engkau Maha kaya untuk tidak sampai membuatku merepotkan kedua orangtuaku, membebani saudara-saudaraku atau mengemis pada sesuatu selain-Mu.

Aku masih percaya ya Allah.kalau pernikahan ini juga sebagai upaya menolong agama-Mu, maka hamba yakin engkau mau menolongku. Hamba masih yakin dengan hadist Qudsi yang berbunyi "Bahwa Allah malu jika tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang menengadahkan tangan di sepertiga malam terakhir".

Aku tidak ingin berujung pada keputusasaan.

Ya Rahman..ya Rahim.Jika memang pernikahan ini akan semakin membuat Engkau meridhaiku, maka mudahkan dan lancarkan. Dan satukanlah kami dan jalinan kasih yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Amien.

Information From seorang

Ketika Cinta Berbalas

Saya masih ingat ada seorang sahabat yang menulis artikel dengan judul "Cinta tak terbalas". Ya, jika udah bicara tentang "CINTA" , tidak akan pernah ada kata akhirnya, karena CINTA adalah anugerah yang indah sekaligus bikin gelisah.

Cinta tak/belum terbalas mungkin menyakitkan, bikin penasaran, sekaligus berbunga angan-angan, "Andaikan dia mau sama aku.", "Apa dia tahu perasaanku ya?" Mau tidak mau, kita dipaksa untuk mengakui dengan jujur, tiap hari pertanyaan serupa itu selalu muncul berganti-ganti.

Bila si dia menunjukkan respon ke arah "sana", hati kita langsung "kling-kling" bersinar cemerlang, serasa hanya kita yang diperhatikan. "O, ternyata benar, dia juga punya perasaan sama.", "Tuh, hanya aku yang dapat perhatian seperti itu, bla bla bla." Lagi, kalau si dia yang bikin kita kebat-kebit cuek dalam satu hari, hati tanpa dikomando bilang, "Tuh kan, aku mah ge-er aja.", "Ah, ternyata dia nggak suka ma aku." Lingkaran ini akan selalu berputar tak berkesudahan bila kita tidak bertanya langsung kepada si dia (karena takut resikonya ditolak).

Setuju sekali dengan pendapat sang ukthi, betapa naifnya hanya karena cinta pada satu orang, kita melupakan cinta dari orang-orang yang telah memberikan cinta sejatinya dari orang tua, saudara, sahabat, guru-guru, dan lain-lain.

Nah, sekarang bagaimana kalau CINTA BERBALAS? Apakah memang seperti gambaran orang-orang yang patah hati karena cinta mereka bertepuk sebelah tangan? Cinta yang berbalas itu indah dan membahagiakan?

Cinta. Anugerah terindah itu pasti akan pernah mampir kepada manusia, makhluk ciptaan-Nya yang dilengkapi akal dan perasaan. Kita juga tidak pernah berencana untuk mencintai seseorang. Cinta itu datang tak terduga, mengalir begitu saja dan paling parah, sukar untuk menghentikannya. Di saat, virus merah jambu itu datang pada kita dan bluss!!! Ternyata… CINTA ITU BERBALAS! Benar-benar indahkah?

Membahagiakan kah? Ternyata dari beberapa hasil survey, didapat kesimpulan "Cinta yang berbalas juga tidak selamanya sesuai harapan". ILMU, yang dilengkapi oleh kejujuran hati nurani yang dititipkan oleh SANG PEMILIK CINTA membuat kita gelisah : Takut zina hati sekaligus menikmati gejolak perasaan yang bervariasi.

Hari-hari dipenuhi keraguan di saat kita gembira bertemu dengan "dia", di saat itu pula rasa "takut" hadir. Di saat kita merindukannya, di saat itu pula kita merasa malu karena kita jarang mengingat pemiliknya, Ar-Rahman. Pergulatan batin akan jadi sangat melelahkan jika kita tidak berusaha untuk "mempertahankan" diri sekuatnya.

Okelah, bagi yang sudah punya kemampuan dan keinginan untuk menikah dalam restu orang tua, mereka punya solusi : SEGERA MENIKAH! Berbahagialah bagi sahabat-sahabat yang berada dalam atmosfir seperti ini.

Nah, bagi yang belum punya kemampuan? Atau yang jatuh cinta pada yang nggak seakidah, atau yang belum direstui orang tua untuk segera menikah, atau lagi, yang jatuh cinta pada tunangan, suami atau isteri orang lain? Wah.. wah.. ini nih UJIAN BERAT!, bukan berarti Allah nggak sayang sama kita, memberi anugerah sekaligus cobaan, tapi justru kita adalah orang-orang yang terpilih untuk membuktikan kesungguhan cinta kepada-Nya. Lalu?

Haruskah kita hanyut dan terlena dengan cinta yang sesaat ini? Ayo sobat! Cinta sesungguhnya terbingkai dalam mahligai pernikahan. Dalam bingkai itulah kita benar-benar berhak mengekspresikan seluruh perasaan cinta yang ada, untuk meraih cinta-Nya yang Agung. Lamar atau minta dilamar, hanya itu pilihan.

Jangan terjebak CINTA SEMU! Jika nama "dia" hadir tanpa diundang, segera ganti dengan istighfar dan sibukkan diri dengan aktifitas yang membutuhkan konsentrasi. Berhati-hatilah dengan hati yang melambung tinggi karena akan sangat sakit bila terhempas.

Tulisan ini hanya sekedar wacana untuk sama-sama jadi renungan. Mudah-mudahan kita bisa menikmati CINTA yang dianugerahkan-Nya dengan rasa syukur yang dalam, membuat kita makin mencintai-Nya dalam setiap hembusan nafas, berusaha mempertahankan dzikrullah agar tidak berganti dengan nama si "dia".
Information From Kota Santri

Jumat, 10 Agustus 2012

Buat apa Menjadi SOMBONG?

”Janganlah kita menjadi sombong, congkak dan merasa lebih hebat dari orang lain. Nobody Is Perfect !”
Di suatu hari yg cerah, seorang cendekiawan yang memiliki banyak ilmu ingin menikmati pemandangan laut dengan menyewa sebuah perahu nelayan.

Setelah harga sewa disepakati, keduanya melaut. Melihat nelayan terus bekerja keras mendayung perahu tanpa banyak bicara, sang cendekiawan bertanya :

“Apa bapak pernah belajar ilmu fisika tentang energi angin & matahari ?”

“Tidak” jawab si Nelayan.

Cendekiawan melanjutkan “Ah, jika demikian bapak telah kehilangan SEPEREMPAT peluang hidup”

Si Nelayan cuma mengangguk-angguk membisu.

“Apa bapak pernah belajar ilmu tentang proses otak manusia atau belajar 6 cara berpikir yang hebat?”.

“Belum pernah” jawab Si Nelayan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Si Cendekiawan melanjutkan “Ah, jika demikian bapak telah kehilangan SEPEREMPAT lagi peluang hidup”.

Si Nelayan kembali cuma mengangguk-angguk membisu.

“Apa bapak pernah belajar & bisa berkomunikasi yang jitu atau dengan menggunakan bahasa asing ?”.

“Tidak bisa” jawab Si Nelayan singkat.

“Aduh, jika demikian bapak total telah kehilangan TIGA PEREMPAT peluang hidup”



Tiba-tiba…angin kencang bertiup keras. Perahu yg mereka tumpangi pun oleng hampir terguling. Dengan

tenang Si Nelayan bertanya kepada Si Cendekiawan “Apa bapak pernah belajar berenang ?”

Dengan suara gemetar & muka pucat ketakutan, Si Cendikiawan menjawab : “Tidak pernah”

Si Nelayanpun berkata dengan santai : “Ah, jika demikian, bapak telah kehilangan SEMUA peluang hidup”

Atau dalam cerita lain dikisahkan ..........

Seorang pria yang bertamu ke rumah Seorang Suhu tertegun keheranan. Dia melihat Sang Suhu sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatny bercucuran deras.

Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Suhu lakukan?"

Sang Suhu menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan.

Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."

Pesan moral yang bisa dipelajari dari metafora diatas adalah :

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih- benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih

kaya, lebih rupawan, lebih berkuasa, lebih tinggi pangkatnya dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih hebat, lebih kompeten, dan lebih berwawasan atau ilmu jauh lebih banyak jika dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga,sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara
tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia.

Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat  kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan yang tulus, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri dan Tuhan memang sangat tidak menyukai orang-orang yang sombong. Karena memang sombong adalah sifat utama Iblis, Syeiton dan para pengikutnya.

Selama dikehidupan dunia memang, kita memiliki banyak materi yang berlimpah, jabatan yang hebat, berbagai ilmu, dan berjuta kesenangan duniawi .. tetapi kita lupa bahwa semuanya akan berakhir saat ajal menjemput dan nyawa meregang, tubuh menyatu dengan tanah dan hanya menyisakan tulang belulang. Dialah sang kematian, sang penghancur harapan, sang penghancur impian.

Tiada satupun yang kita bawa sebagai bekal kelak kecuali ibadah dan amal dari perbuatan baik yang kita lakukan, Ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, serta anak yang sholeh yang senantiasa mendoakan ayah Ibunya.

Jika memang demikian, apa lagi yang mau kita sombongkan? (MY)
Have a positive day! 

Kutipan dari Mas Yunus.

Minggu, 13 Maret 2011

Aku bukanlah seperti dia



Latar belakang kita berbeda, mungkin saja dia tumbuh dengan cukup air dan sinar, maka aku cukup tumbuh dengan bantuan musim-musim.
Ragaku tidaklah seperti tumbuhan yang cukup rindang dan kokoh, biarpun akarku kuat menghujam bumi tapi dahan-dahanku mudah goyah tersapu angin, tapi tidak bagi jiwaku.
Aku bukanlah seorang Arjuna,  kekerdilan- lebih tepat kiranya bila  kau ingin bayangan tentang diriku.
Tubuh dan jiwaku bersifat universal, milik dunia yang mengagungkan cinta dan damai, walau aku tertidur atau bahkan mati  jalinan kata2 ku akan tetap hidup dan terjaga karena ia bebas dan abadi.
"Mahadewi" itu nyata, tercipta  takkala aku melihat engkau menengadahkan tangan kelangit memohon sesuatu kepada sang Pencipta, dan saat itu aku tertegun  melihat kecantikan fisik dan jiwa dari seorang Hawa....
Saat aku melihat kecantikan itu tanganku seakan terulur untuk membawanya kedalam hati, begitu juga saat diriku memandangmu,tak ada kata yang dapat kuucap, kuterjemahkan segala yang ada dalam puisi ,  cermin khayalan intuisi dan  imajinasi dari seseorang yang terpenjara sepi yang bercerita tentang  kehidupan, kematian dan juga cinta ...
Bila ku sempat menggangu tidurmu aku mohon maaf, akupun terganggu tidur- dari rasa salahku , yang membiarkan semua ini berjalan, tanpa ku tahu kau menyukainya atau tidak.
Kubangun atau kuhancurkan segala khayalanku itu ?....aku tak tahu harus berbuat apa, biarlah waktu yang akan menjawab semua itu, biarlah puisiku yang membisikkan semuanya padamu, karena ia wakil segala ungkapan hati yang ada dibumi, yang bercerita tentang kau dan aku.
Takkala aku melihat bunga berwarna kuning, kamu sering berkunjung kesana menjemput impian hati, di sana juga kita sempat berjumpa dalam takdir Tuhan, walau kau tidak bertatap muka denganku, dan aku melihat kamu disana....aku melihatmu dalam kekhusyuan shalat....
 Karena apalah artinya diriku, maka aku tidak berusaha untuk menyapamu , aku bukanlah siapa-siapa, aku tak ingin menjadi hantu yang tiba-tiba memperkenalkan diri dengan segala impian yang ada dibenaknya, dan bisa saja dirimu melihatku sebagai makhluk yang aneh, bila ku tetap mengikuti hasrat...
Untuk itu kuredam hasratku untuk menyapa dan menghampirimu...biarlah kejadian yang serba kebetulan itu , menambah keasyikanku untuk mencipta....sudah cukup bahagia kurasakan- saat pertemuan yang ganjil itu...bahwa aku benar-benar melihatmu dibelakang saf-ku.....jiwaku bergetar -"ku berdiri didepannya !", aku tak percaya dengan apa yang terjadi,....ketika ku selesai kau tidak ada disana lagi.....biarlah segala keterkejutanku dan pertemuan tiga menit ini , menjadi jawaban bagi puisi-puisiku yang selama ini membisu, karena tak ada yang menjawab seruannya......."seandainya dia tahu!".

Sabtu, 25 Desember 2010

Membelengguku


keayuanmu
- merindukanku
di kesyahduanmu itu, gadisku
- yang di buah rinduku
menggebu dan membelengguku

dan di dalam belenggumu itu
kuayu
kusyahdu
- buatku mencintaimu
melebihi cintaku
pada diriku sendiri

dan relaku mati
keranamu, gadisku

moga setia dan takwamu
membawaku ke syurga!





Senin, 29 November 2010

Cerita Kentang (A wise story)

Ada salah satu TK (taman kanak-kanak) di Australia, pada suatu hari, guru TK tersebut mengadakan "permainan" menyuruh anak tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut di beri nama berdasarkan nama orang yang di benci, sehingga jumlah kentangnya tidak di tentukan berapa...tergantung jumlah orang2 yg dibenci.

Pada hari yang disepakati masing2 murid membawa kentang dalam kantong plastik.Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap2 kentang di beri nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid2 harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi bahkan ke toilet sekalipun selama 1 mingggu.

Hari berganti hari kentang2 pun mulai membusuk, murid2 mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid2 TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka kan segera berakhir.

Guru:"Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?" Keluarlah keluhan dari murid2 TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang2 busuk tersebut kemanapun mereka pergi.
Guru pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.Guru:" Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain."

Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup?

Alangkah tidak nyamannya....."

Sabtu, 30 Oktober 2010

Musibah

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Dulu, ketika kita mendengar ada badai hebat di Amerika, Bangladesh, hingga Filipina; banjir meluap di Tiongkok, Brazil, hingga Korea; gempa dahsyat di Rumania, Meksiko, hingga Jepang; kapal tenggelam di Inggris, Italia, hingga Rusia; kecelakaan kereta api di Argentina, Skotlandia, hingga Jerman; kecelakaan pesawat di Turki, Prancis, hingga Sri Lanka; kebakaran hutan di Amerika, Tiongkok, hingga Australia; ledakan di Irlandia, Iraq, hingga Pakistan; pertumpahan darah di Timur Tengah, India, hingga Afghanistan; dan
musibah-musibah lain yang terjadi di berbagai belahan dunia, setiap kali kita hanya sebentar ikut prihatin, lalu diam-diam atau terang-terangan merasa lega dan bersyukur bahwa tempat-tempat musibah tersebut jauh dari kita.

Sekarang, ketika musibah-musibah itu, plus musibah lumpur panas, secara beruntun terjadi di tanah air, masih juga banyak orang yang jauh dari tempat musibah bereaksi sama. Ikut prihatin sebentar, lalu diam-diam atau terang-terangan bersyukur bahwa bukan mereka yang terkena.

Dan akhir-akhir ini Irian Jaya terkena air bah, Gunung Merapi Meletus (Mbah Marijan sebagai maskotnya), Mentawai Tsunamai, yang sebelumnya di Aceh. Apakah itu Musibah?

Karena beruntun, setidaknya dalam dua tahun belakangan, banyak pula yang terusik dan bertanya-tanya: Ini ada apa? Ini cobaankah, peringatan, atau siksa dari Tuhan?

Memang, ada beberapa ayat suci yang jelas-jelas menyatakan bahwa musibah dan kerusakan adalah akibat ulah manusia (misalnya, Q.4: 62; 28: 47; 30: 36, 41; 42: 48). Namun, dalam menjabarkan ayat-ayat itu, berbeda-beda hujah orang.
Ada yang dengan nada keminter menyalahkan pihak-pihak selain dirinya. "Alam itu memiliki karakter yang tetap," katanya; "Gunung, laut, angin, dsb sama saja tidak pernah berubah. Jadi, bisa dipelajari. Seharusnya para ilmuwan dapat memberikan masukan informasi kepada pemerintah dan masyarakat.
Semestinya pemerintah sudah mengantisipasi gejala-gejala alam itu. Apa kerja Badan Meteorologi dan Geofisika itu?"

Dari mereka yang suka menyalahkan itu, ada yang lucu; menyalahkan presiden yang dianggap membawa sial dan seharusnya diruwat.

Ada pula yang agak memper, menyalahkan orang-orang yang suka merusak alam. Menurut mereka, alam marah kepada manusia yang terus-menerus melukainya. Bukan hanya manusia yang bisa kecewa, marah, demo, dan ngamuk. Alam pun bisa.

Ada yang lebih kehambaan dengan mengakui bahwa semua ini akibat dosa masal terhadap Tuhan pencipta manusia dan alam. Dosa kita semua. Jadi, tidak relevan dan sia-sia apabila hanya saling tunjuk, menganggap pihak lain saja yang berdosa, seolah-olah masing-masing merupakan wakil Tuhan.

Semua aturan Tuhan dilanggar beramai-ramai. Diangkat menjadi khalifah di kehidupan di dunia, tidak merawat dan mengelolanya secara baik, malah merusaknya. Mereka yang merasa benar tidak mau membenarkan, malah hanya menyalah-nyalahkan. Mereka yang berkesempatan berkorupsi tidak ditutup kesempatannya berkorupsi, malah dipupuk dan diberi peluang.

Hukum yang seharusnya menata malah ditata. Penegak hukum yang melencengkan hukum tidak dibantu menegakkan, malah didorong untuk terus melencengkannya. Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua merajalela. Amuk di mana-mana.

"Karena dosa masal, untuk menghentikan hajaran Tuhan ini, tiada lain kita semua mesti melakukan tobat masal," kata sohibul pendapat itu.

Saya sependapat dengan pikiran tersebut karena saya sendiri juga melihat kenyataan perikehidupan kita yang seperti itu. Saya setuju dan mendukung anjuran tobat masal, tapi tidak dengan pengertian yang sederhana. "Hanya" ramai-ramai istighotsah secara seremonial, nangis-nangis minta ampun kepada Tuhan, lalu sudah.

Tobat yang saya dukung adalah tobat yang sesungguhnya. Masing-masing mengidentifikasi kesalahan sendiri dan menyesalinya, lalu bertekad tidak mengulangi. Mereka yang merasa pernah merampas hak orang lain segera mengembalikan atau meminta ikhlas dari pihak yang terampas. Misalnya, pejabat yang pernah mengorupsi harta rakyat, segeralah mengembalikan. Atau, jika telanjur habis termakan, mengadakan konferensi pers untuk memohon keikhlasan dari rakyat.

Mereka yang pernah atau sering nyogok atau menerima sogok, segera berhenti dan berjanji tidak akan mengulangi. Mereka yang karena memiliki kelebihan, baik berupa kekayaan, kepintaran, maupun kekuasaan, hendaklah segera menyadari bahwa itu semua adalah anugerah Tuhan yang seharusnya disyukuri, bukannya dijadikan alasan untuk angkuh serta merendahkan orang lain.

Mereka yang suka memutlakkan pendapat dan kebenaran sendiri hendaklah segera menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah dan mulai belajar menghargai pendapat orang lain. Demikian seterusnya. Kemudian, baru dengan tulus dan khusyuk memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

Kesalahan-kesalahan yang telanjur dilakukan karena kebodohan serta kecerobohan harus diakui dan diusahakan memperbaiki dengan belajar atau menghindarinya sama sekali. Misalnya, karena pengetahuan kita mengenai bencana alam dan penanganannya masih minim, kita harus mengakui dan belajar.

Misalnya, karena nasib baik atau KKN, seseorang diangkat dan diserahi tugas yang tidak begitu dikuasainya, lalu timbul kesalahan, dia bisa memperbaiki dengan belajar. Tapi, bila tugas tersebut sama sekali di luar kemampuannya, segera saja mundur. Sebab, kesalahannya akan beranak-pinak.

Karena itu semua adalah pendekatan kehambaan, kuncinya adalah kerendahhatian. Tanpa sikap rendah hati, tobat akan sia-sia belaka.

Waba'du, meskipun wadag kita dari lumpur, tidak seharusnya kita bersikap seperti lumpur Porong yang seenaknya sendiri, merusak ke sana kemari, susah diatur, tidak jelas maunya. Sebab, dalam wadag kita, Allah meletakkan cahaya penerang: akal dan hati nurani.

Semoga bermanfaat

Wassalam

Soleh Sugianto

Selasa, 26 Oktober 2010

10 Tips Membina Persahabatan


1. Pikirkanlah apa yang dapat kamu berikan kepada sahabatmu bukan apa yang
dapat kamu peroleh dari persahabatan. Jangan bersahabat hanya demi
memperoleh kesenangan, karena jika demikian, kamu bukanlah sahabat sejati.
Hargailah sahabatmu seperti kamu ingin dihargai 

2. Dukunglah sahabatmu. Sahabat sejati selalu saling menyemangati dan
'mendorong'supaya mereka bersama-sama dapat menjadi yang terbaik bukannya
saling menjatuhkan. Ia turut berbahagia ketika sahabatnya berhasil mencapai
apa yang diinginkannya dan tidak merasa tersaingi. 

3. Bersedia untuk memaafkan Jangan biarkan 'luka' berkembang menjadi
kepahitan karena hal ini akan menghancurkan persahabatan yang ada. Maafkan
kesalahan yang diperbuat oleh sahabatmu dan jangan biarkan luka itu merusak
hubungan.

4. Jangan memandang kesalahan yang dibuatnya Ini adalah suatu cara untuk
menunjukkan betapa kita peduli terhadap dia. Jangan tinggalkan sahabatmu
saat dia berbuat kesalahan. Bersabarlah dan tuntunlah dia untuk berubah.
Sadarilah bahwa tidak ada orang yang sempurna. 

5. Jadilah sahabat yang dapat diandalkan dan tepatilah janji yang telah kamu
ucapkan. 

6. Jangan mencoba untuk mengontrol sahabatmu. Bersahabat bukan berarti harus
selalu bersama-sama . Memang akan sangat menyenangkan bila dapat selalu
bersama dengan orang yang kita kasihi. Namun ingat, sahabat kita itu bukan
monopoli kita sendiri karena ia juga mempunyai teman lain selain kita. Untuk
itu jangan merasa dikhianati ketika temanmu bergaul dengan yang lain,
sebaliknya usahakan kamu juga dapat berteman dengan mereka. Hal ini akan
membuat kita dan sahabat kita lebih menghargai satu sama lain.

7. Selalu ada disaat senang maupun susah Bergembiralah bersama mereka saat
mereka sedang bergembira namun jangan ada hanya pada saat senang saja.
Ketika sahabatmu sedang kesal akan sesuatu, berikan mereka perhatian. Yang
paling dibutuhkan dari seorang sahabat adal ah sepasang telinga yang
simpatik dan yang mau me mahami perasaan mereka. 

8. Menerima apa adanya sahabatmu Jangan menuntut sahabat kita untuk bereaksi
dengan cara yang sama seperti yang biasa kita lakukan. Hargailah dia apa
adanya termasuk juga keputusan yang dia ambil yang mungkin tidak sesuai
dengan kehendak kita.

9. Jangan jadi 'Ember' (mulut bocor). Belajarlah untuk menjaga rahasia
sahabatmu.

10. Jangan biarkan perbedaan pendapat menghancurkan persahabatanmu. Misalkan
kamu sedang berdiskusi dengan sahabatmu dan waktu kamu mengemukakan pendapat
yang menurut kamu benar ternyata ia tidak setuju. Bila itu terjadi, jangan
terus berdebat yang hanya akan membuat kamu dongkol. Lepaskan hasrat untuk
menang sendiri daripada persahabatanmu rusak karenanya.

Selasa, 27 Juli 2010

Perempuan Bergelar Ibu

Ia tak secantik dan seanggun kaum bendoro putri
Tak pula segesit dan sepintar perempuan modern masa kini
Kulitnyapun tak sehalus bintang iklan yang berseri
Cara bertuturnya tak sepiawai petinggi-petinggi negeri ini

Tapi bagiku..
Ia perempuan paling hebat dalam hidupku
Perempuan paling sabar sekaligus paling kuat di mataku
Belaian tangannya selalu berhasil meredam gundahku
Tuturnya yang sederhana membangkitkan semangatku

Bertahun lalu
Aku menyangka ia tak sayang karena sering marah-marah padaku
Aku mengira ia tak sayang karena tak selalu menuruti permintaanku
Aku menduga ia tak peduli karena membebaskan beberapa pilihan dalam 
hidupku
Aku merasa ia tak cinta karena tak pernah mengucapkannya

Tapi ternyata..
`Marah'nya Ibuku adalah pagar yang membatasiku dengan mala dan petaka
`Pelit'nya Ibuku adalah pelajaran untuk menghargai segala sesuatu
Ke'tidakpeduli'annya adalah sikap demokratis untuk mengajariku 
bertanggung jawab
Tatapan kasihnya ternyata lebih bermakna cinta daripada sekedar kata

Ketika senang, kita berpesta merayakannya bersama teman
Namun ketika sedih, ternyata masih pula kita mencari pelukan Ibu..
Ibu jadi seperti betadine* saja, diperlukan ketika kita terluka

Dulu kupikir..
Ketika aku jauh, tentulah Ibuku senang terbebas dari segala 
kenakalanku
Betapa picik pikiranku, karena ternyata seorang Ibu tak bisa berhenti 
memikirkan anak-anaknya meskipun kita sudah beranjak dewasa, bahkan 
menua
Mungkin ketika kita terlelap, masih ada mata keriput Ibu menitikkan 
air mata dan berdoa memohon kesehatan anak-anaknya
Ketika kita disibukkan bekerja untuk memenuhi tuntutan hidup, doa 
perempuan yang kita sebut Ibu mungkin selalu menjaga kita dari goda
Kasih yang abadi, cinta yang tak bersyarat sama sekali



Ya Allah terimakasih telah Kau kirimkan untukku seorang ibu..

Selasa, 20 April 2010

Embun pagi Forsimpta


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sahabat seiman, semoga Allah Swt merahmati kita..
Kutulis pesan ini atas dasar cinta, kuharap kau pun menerimanya dengan cinta, yaitu cinta kepada Allah Swt, dan semoga perpaduan cinta ini melahirkan buah keridhoan, berlebur berbuah kesabaran meniti jalan, dan menumbuhkan spirit kekuatan mengarungi jalan penuh harapan.. sahabat hari ini kita akan
lanjutkan kembali perjalanan menghabiskan usia dan kesempatan meraih kemenangan..

Sahabat seiman,
Begitu indah bayangan iman, begitu mengasyikan angan-angannya, sehingga melalaikan para pemilik asa, meremehkan keberadaannya berdendang ria, lalu optimis rapuh menhias bahwa ia adalah empunya.. ternyata tidak semudah itu sahabat.., iman bukan sekedar angan ataupun asa, apalagi sekedar pengakuan hampa, ia adalah getaran hati pemilik cinta yang berharap perjumpaan kekasih idamannya.. hanya yang memiliki kesabaran dan kekuatan yang bertahan memelihara dan menatanya di taman hati..

Sahabat.., tengoklah betapa hebatnya sang sang ayah yang meyakini harapan keluarganya yang menanti kepulangannya membawa sekantong rezeki, ia rela berangkat mencari nafkah diterpa susah..
betapa tangguhnya kesabaran sang Ibu merawat buah hati karena besar harapannya kelak dewasa menjadi penopangnya, betapa gigihnya kita mempertaruhkan hidup bekerja berharap sesuap nasi kehidupan, menjadikan kita bersemangat berpeluh keringat bersimbah darah.. tak ada keyakinan yang berbuah busuk, kopong tanpa usaha, semudah itukah amal kita tuk membuktikan keberadaan iman..?

Sekuat apa keyakinan kita terhadap keagungan Allah Swt..? besarnya kebaikan dan rahmat Allah Swt kepada kita..?kebenaran akhirat..? serta keberadaan syurga dan neraka..? dapatkah keyakinan itu semua menghiasi amal? Menundukkan kita di hadapan hukum Allah Swt..? ataukah pengakuan iman kita hanya sebatas fatamorgana kosong yang hampa..? 

Sahabat seiman,
Bersiaplah, kendaraan hati siap melaju mengarungi medan kehidupan.. kibarkanlah lebar-lebar layar iman, agar ia mampu mengarahkan tujuan, mendorong kuatnya laju kendaraan.. sahabat ku tak ingin di pagi ini ada satu perbekalan yang tertinggal, dzikir, tilawah, tasbih, tahmid, takbir serta istighfar akan senantiasa menyertai kejujuran dalam berprestasi amal sholeh..
Sahabat.. jangan tertipu dengan fatamorgana iman, buktikan bahwa iman itu memang telah ada di dada..! (SaiBah) (disarikan dari Q.S. Al Hujurot (49): 14-15) 

Information From 

Senin, 08 Maret 2010

Ketika Lalai Menyadarkan Diri Ini

PortalInfaq-Jakarta. Malam itu (Jum’at, 30 Maret 2007) suasana aula lantai 6 Telkomsel, Atrium Mulia begitu teduh, khusyu, begitu ramai dengan banyaknya jiwa yang hadir untuk mengevaluasi diri, begitu banyak pasang mata yang basah, karena sadar akan dosa dan khilaf diri. Sesegukkan terdengar dibeberapa sudut ruangan. Malam itu kami merasakan banyak jiwa perindu hadir dan menemukan muaranya dalam hangat perjumpaan di majelis-NYA yang mulia




KH. DR. Muslih Abdul Karim, MA, sosok yang sederhana itu memulai dengan do’a yang ditujukan untuk semua hadirin, agar diberkahi usianya dan diberikan banyak rezeki. Lucunya sang Ustadz menyambung do’a banyak rezeki itu dengan menyebut nominal. Beliau katakan semoga gaji para hadirin Rp. 25.000.000,-/sebulan. Dan karena oderator belum mengaminkan DR. Muslih mengulang do’anya dan mengakhiri dengan semoga gajinya menjadi Rp. 75.000.000,-/sebulan, yang tentu saja segera diaminkan oleh para jamaah dengan semangat, termasuk moderator kajian malam itu yang disambung dengan tawa hadirin yang lepas.


Ustadz juga berdo’a semoga semua yang hadir dimasukkan ke dalam syurga-Nya Alloh SWT. Lalu beliau melanjutkan dengan meminta hadirin berdiri dan mengajak para hadirin bermuhasabah dengan mengingat jasa-jasa kedua orang tua serta pengorbanan mereka. Segera saja terdengar isak tangis dari para hadirin di awal perjumpaan itu.


Padahal kajian baru saja berlangsung 10 menit. "Siapapun kita, pasti akan merasakan naik turunnya kondisi keimanan. Itu adalah sunnatulloh. Akan tetapi ketika turun, jangan sampai jauh terperosok melebihi peningkatannya," begitu pesan Ustadz Muslih. Bila kita merasa sedang ‘turun’ segeralah beristighfar kepada Alloh juga bertasbih mengagungkan Asma-NYA. Iringi setiap perbuatan dosa dengan taubat serta perbuatan baik kita yang terus ditingkatkan.


Cara menjaga kondisi iman agar tak mudah lalai salah satunya adalah juga rajin menghadiri jamaah orang-orang yang taubat kepada Alloh atau orang-orang yang menuntut ilmu. Kalau kita memiliki suami atau istri maka jadikan pasangan kita itu adalah partner kita dalam berlomba saling meningkatkan kualitas keimanan kita kepada Alloh. Beliau memberi resep bila ingin berbahagia dalam rumah tangga alias Sakinah Mawaddah Wa Rohmah salah satu caranya adalah berupaya sholat tahajjud dan membangunkan pasangan kita dengan penuh kasih sayang. Dengan begitu kehidupan yang bahagia insyaAlloh akan kita capai. Banyaknya kasus kawin cerai dewasa ini sebenarnya adalah karena banyak pasangan yang ‘lalai’ menghidupkan suasana beribadah yang khusyu’ kepada Alloh di dalam rumah mereka.


Tim Nasyid Izzatul Islam yang malam itu hadir dengan full team, melengkapi kajian bulanan masyarakat perkantoran Jakarta ini dengan dendang syairnya yang menyentuh hati. Diantaranya adalah seperti ini:
Berbekallah yang banyak
Untuk segera pulang
Bertemu dengan Alloh di alam sana

Bila pagi datang, jangan tunggu sore
Bila sore datang, jangan tunggu pagi

Hidupklah di dunia sebagai orang asing
Atau pengembara yang tidak lama


Orang-orang yang senantiasa mengasah kepekaan imannya serta senantiasa mendekatkan diri kepada Alloh dengan banyak berdzikir, beristighfar dan berjuang di jalanNYA insyaAlloh akan menjadi pribadi yang kokoh. Orang-orang seperti ini akan menyikapi kehilangan dan ujian sekalipun dengan sikap positif sebagaimana kisah ummu Sulaim dan Abu Tholhah ketika anak mereka meninggal dunia. Sejarah orang-orang yang tegar selalu menyisakan banyak inspirasi memang.


Dalam kajian kali ini juga terhimpun dana infaq sebesar Rp. 4.401.000 yang akan disalurkan untuk Program Sekolah Anak-anak Pemulung di Bantar Gebang Bekasi, mohon do’a, semoga usaha kami bersama Jamaah kajian bulanan dalam mengelola Sekolah Pemulung ini berjalan dengan baik dan penuh berkah-Nya.


Diantara kuisioner yang masuk banyak juga yang menginginkan kunjungan ke lokasi ini. Penghargaan tak terhingga kami sampaikan kepada Majelis Ta’lim Telkomsel Jabotabek sebagai tuan rumah acara kali ini serta Gema Insani Pers (GIP) yang menjadi sponsor, serta kepada segenap pihak yang terlibat, semoga setiap tetes keringat dalam jalan kebaikan Allah SWT catat sebagai ’amal kebaikan di hadapan-Nya.


Demikianlah acara malam itu kembali lagi ditutup dengan do’a dan muhasabah. Banyak airmata mengalir tak terbendung. Semoga kalaupun kita pernah lalai, kita segera bisa kembali kepadaNYA dengan penuh kesadaran dan mengisi sisa hidup kita yang jelas tak lama ini.


Wallohu ‘alam bish shawab. Sampai ketemu bulan depan di kajian berikutnya yang akan segera kami informasikan kepada anda melalui website tercinta ini.

Senin, 20 April 2009

Fasbir Sabran Jamila (Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik)

oleh Allabib

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun " (Al-Baqarah :155-156)


Disebutkan dalam Al-Quran kata SABAR sebanyak 90 kali. Dinataranya mengandung pujian Allah terhadap para hamba-hambanya yang sabar, menerangkan pahala orang-orang yang sabar, atau menerangkan nilai yang diraih orang-orang yang sabar dan bahkan menggabarkan kecintaan Allah kepada orang-orang yang sabar.


“Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik, sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu mustahil. Sedangkan Kami memandangnya mungkin terjadi. (Al-Ma’arij : 5-7)”

Fasbir Sabran Jamila, sebuah nasehat suci dari Sang Maha Suci kepada pembawa ajaran Suci, Rasulullah Muhammad alaihi salatu wassalam, ketika para kafir quraisy enggan menerima seruannya ke jalan yang benar. Siksaan dan ejekan tak luput selalu diarunginya. Ditafsirkan ayat tersebut oleh DR Aid AL-Qorni, seorang penulis dan sastrawan muslim asal Saudi Arabia, sebagai berikut:

Wahai Muhammad…
Jika kebatilan menyerangmu, kejahatan menentangmu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika hartamu sedikit, dan kesedihan pun menimpamu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika para sahabatmu terbunuh dalam peperangan, dan para pengikutmu berkurang, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika semakin banyak orang yang memusuhimu padahal kamu menyeru kebaikan dan para pembangkan mengelilingimu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika mereka menjebakmu dan mengamcammu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika anakmu, istrimu dan kerabatmu meninggal dunia, Fasbir Sabran Jamila !!

Fasbir Sabran Jamila, seruan indah kepada semua manusia yang tak luput dari dinamika dan problematika sosial, di rumah, di kampus, di tempat kerja dan di tempat-tempat umum lainnya. Siapapun manusianya, dia pasti memiliki egoisme dan amarah, namun keaktifan dua sifat tersebut bergantung kepada manusianya. Tidak ada manusia yang tidak butuh terhadap sabar. Kesabaran adalah sebuah keniscayaan bagi mnusia. Dan tuntutanya, bagaimana manusia bisa mengasah kesabarannya?? Inilah “madrasah” Allah SWT dan Rasulul-Nya dalam mendidik kita agar mampu mengendalikan sifat egoisme dan amarah dengan untaian mutiara “Fasbir Sabran Jamila”

Raslululah SAW, dimusuhi oleh pamannya Abu lahab sebelum orang lain memusuhinya. Buah hatinya meninggal di pangkuannya saat berusia 2 tahun, air matanya pun menetes membasahi pipi sang buah hati. Segera Ia memandikannya dan menguburkannya. Sepulangnya dari pemakaman ia pun tersenyum. Fasbir Sabran Jamila !!
Rasulullah SAW, di usir dari tanah kelahirannya saat istri kesayangannya dan pamannya Abu Thalib yang selalu mem-back up-nya pergi ke rahmatullah. Penduduk di kampungya bersekongkol memilih para pemuda tangguh dari setiap qabilah (suku), dan mereka mengelilingi rumahnya di kegelapan malam untuk membunuhnya. Dengan perlindungan Allah Rasul pun meninggalkan kampung halamannya. Fasbir Sabran Jamila !!
Rasulullah SAW, bersama Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur saat hijrah ke Madinah, sedangkan kaki-kaki kaum kafir saat itu nampak berpijak di depan gua. Dengan rasa takut Abu bakar berkata “Wahai rasulullah jika salah seorang diantara mereka menundukkan kepalanya ke arah gua, maka akan melihat kita” dengan senyum Rasul menjawab “wahai Abu bakar, jika dua orang berkumpul maka Allah lah yang ketiga” “Wa la tahzan innallaha ma’ana (jangan bersedih sungguh Allah bersama kita” (Ta-taubah : 40) Fasbir Sabran Jamila !!


“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (AL-Kahfi :28)


Fasbir Sabran Jamila !! Nasehat suci yang juga ditujukan untuk melakukan perbuatan suci, beribadah. Rasulullah Meletakkan batu sebagai pengganjal perutnya disaat perutnya kempis tanda lapar. Dan bersabar untuk berpuasa menahan lapar di saat tak tersedia makanan di pagi harinya. Bersabar menahan kantuk untuk melaksanakan shalat malam. Bersabar menahan luka pada tumitnya akibat lamanya ia berdiri dalam shalat malamnya. Bersabar untuk menghadap Allah dengan membaca surat Al-Baqarah yang begitu panjang saat shalat dalam kesedniriannya. Bersabar menahan sakit demi mendapatkan shalat jamaah bersama para sahabatnya. Bersabar untuk tidak makan demi menghormati dan memuliakn tamunya. Masya Allah adakah orang yang semulai ini. Sungguh pantas engkau wahai Rasulullah untuk menjadi sauri tauladan bagi kami.

Rasulullah SAW, tanah menjadi lantai rumahnya, atapnya setinggi uluran tangannya. Dan jika berbaring tidur, kaki dan kepalanya menyentuh dinding rumahnya. Ditawarkan Jibril agar Allah merubah gunung batu menjadi gunung emas untuknya, ia pun menolaknya. Fasbir Sabran Jamila !!

Rekan-rekanku, kemampuan Rasulullah SAW memahami hakikat sabar dan merenungi ayat “Fasbir Sabran Jamila” membuat ia begitu tahan banting terhadap berbagai halangan dan rintangan. Akhirnya, selepas membaca nasehat ini, semoga kita yang keluar dari kampung halaman karena niat menimba ilmu bukan karena terusir, juga mampu bersabar dalam menghadapi semua problematika kehidupan yang fana ini dan sabar dalam menyiapkan saham serta investasi sebagai bekal di akhirat kelak. Sabar dalam menjalani shalat dan tidak tergesa-gesa. Sabar untuk duduk bersimpuh beberapa menit setelah shalat mengadu dan mengulurkan tangan kepada Allah, tanda meminta dan memohon. Dan juga sabar untuk selalu mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan, tanda peduli dan memberi. Agar kita termasuk orang-orang yang dicintai Allah. Amiin. Percayalah, sungguh waktu akan membisikkan hikmahnya. Wallahu a’lam.


Rahmat Hidayat Lubis

Tripoli Libya, 19 Nov 2008.
13. 36 waktu Libya.


Alumni Pon-Pes Daar El-Qolam Gintung
Mahasiswa di Faculty of Islamic Call, The Specialization of call and civilization.
Tripoli Libya

Senin, 23 Februari 2009

Saat-saat Jatuh Cinta

Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk mendekatinya.

Sobat muda muslim, kenapa kita merasa senang dan bahagia kalo jatuh cinta? Menurut Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orangtua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan. (http://e-psikologi.com, pada pembahasan tentang “Cinta”)


Ketika jatuh cinta, kita tiba-tiba merasakan dorongan ingin bertemu dengan orang yang kita cintai. Dorongan itu bahkan sangat kuat menekan kita manakala ada orang yang membicarakan si dia, atau ada orang yang menyebutkan namanya, lebih lucunya ketika membaca tulisan yang kemudian menuliskan sebuah nama yang sama dengan nama orang yang kita cintai. Kita jadi rindu berat ingin bertemu, atau sekadar ingin berkomunikasi dengannya. BTW, ngerasain kayak gini nggak?


Tapi anehnya, seringkali kita juga merasa harus jaim alias jaga imej. Pura-pura jual mahal ketika berkomunikasi atau kebetulan bertemu dengan orang yang kita cintai. Meski rasa ingin mencurahkan perasaan itu begitu kuat menekan. Lucu juga memang. Itu artinya, bahwa jatuh cinta memang unik. Tapi dengan catatan nih, biasanya jika yang jatuh cintanya itu masih malu-malu. Eh, umumnya memang malu-malu kan? Jarang yang agre, gitu deh. Meski ketika jaman sudah berubah kayak sekarang, banyak pula yang agre (baca: agresif) untuk ngungkapin cintanya. Ya, seperti pada reality show, “Katakan Cinta” itu.


Sobat muda muslim, ketika jatuh cinta, kita jadi merasa lembut. Baik lisan kita atau saat kita menulis. Kita mulai belajar mengatur pilihan kata saat bicara. Terutama ketika bicara dengan si dia yang telah membuat kita jatuh hati. Itu kita lakukan biasanya untuk mendapat perhatiannya. Untuk memberikan imej bahwa kita baik di hadapannya. Ujungnya, bukan tak mungkin kalo akhirnya kita mendapat simpati darinya. Awalnya memang simpati, siapa tahu lama-kelamaan menumbuhkan empati dan akhirnya jatuh hati. Bukan tak mungkin kan?


Karakter cinta
Jatuh cinta membuat kita merasa harus menumbuhkan perhatian, merasa harus bertanggung jawab, merasa harus hormat di hadapan orang yang kita cintai, dan merasa harus mengetahui segala seluk-beluk tentang dirinya. Erich From, murid kesayangan Sigmund Freud pernah menyampaikan bahwa dalam cinta itu harus ada empat unsur yang perlu dimiliki, yakni:


Pertama, Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Termasuk jika kita jatuh cinta dengan mencintai lawan jenis kita, maka segala bentuk perhatian akan kita tunjukkin sama si dia. Kita jadi sering menulis namanya, menyebutkan namanya, mungkin diam-diam mengoleksi fotonya. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi kita bisa mengintip diary online (blog) dirinya yang mungkin saja memajang foto dirinya. Diam-diam kita menjadi secret admirer-nya. Minimal itu. Karena tujuan mulianya adalah mendapat perhatiannya sebagai seorang kekasih.


Kedua, Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orangtua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai istrinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Seorang jejaka atau gadis yang saling jatuh cinta, ia akan berusaha untuk memposisikan bahwa mereka bertanggung jawab terhadap hubungannya. Menjaganya dan merawatnya jangan sampai kebablasan. Mereka yang ngerti ajaran Islam, maka jatuh cinta itu bukan untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Sang Pemilik Cinta, yakni Allah Swt. Ia akan menjaga pandangannya, perasaan, hatinya, dan juga aktivitasnya agar tak kebablasan. Tapi, cinta bukan lagi tanggung jawab jika sepasang remaja yang dilanda cinta itu mengekspresikannya dengan cara yang membuat mereka dibenci Allah Swt, seperti seks bebas misalnya.


Ketiga, Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect. Itu sebabnya, seringkali kita mendengar cerita ada orang yang saling jatuh cinta itu meski berbeda etnis, berbeda bahasa, berbeda budaya, bahkan ada yang sampe cinta buta, yakni berbeda agama. Itu karena merasa bahwa cinta akan melahirkan sikap menerima apa adanya. Wah, jika tak ada filter akidah memang akhirnya akan hancur. But, ini kita bicara secara umumnya lho. Bahwa cinta akan melahirkan respect kepada obyek yang kita cintai. Betul nggak?


Keempat, Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Nggak asal jatuh cinta juga. Eh, kalo kita bicara secara umum pun, sebenarnya ketika jatuh cinta kita bakalan nyari tahu dari obyek yang kita cintai. Nah, tentu standar yang diinginkan dalam pencarian itu tergantung kepribadian orang yang bersangkutan. Ada yang merasa agama tak perlu menjadi pertimbangan, tapi ada pula yang merasa bahwa agama harus menjadi pertimbangan saat jatuh cinta. Kepada siapa kita harus mencintai. Begitu kan? But, intinya secara umum, cinta memang akan melahirkan rasa ingin tahu untuk menyelidiki si dia yang kita cintai, yang telah membuat kita jatuh hati dan jatuh cinta kepadanya. Setuju?


Tetap iffah selama jatuh cinta
Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.”


Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan. (dalam kitab al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi, edisi terjemah. hlm. 255)


Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.”


Mungkin kayak kita lagi haus nih, udah gitu di siang hari dengan terik matahari yang menyengat, maka kita akan semakin haus dan semakin ingin mencari air untuk memenuhi rasa haus kita. Nah, begitu dapetin air, maka nikmatnya bener-bener terasa. Tanya kenapa? (Yee.. jadi malah ngikutin iklan?)


Sobat muda muslim, kita sering mendengar bahwa jatuh cinta dan akhirnya mencintai orang yang kita cintai adalah sebagai anugerah terindah. Mungkin ada benarnya juga. Meski menurut saya itu terlalu didramatisir. Sebab, urusan cinta ini sangat kompleks, sobat. Tidak seperti hitungan matematika yang serba pasti. Tapi yang jelas dan yang paling utama, cinta bagi kita sebagai Muslim, harus sesuai sudut pandang Islam. Bukan yang lain.


Guys, setiap perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara pandang kita terhadap perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita tentang hidup. Kalo kita memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu sampai titik tertentu mati (dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan kita pun bakalan ngikutin apa yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita bisa bebas berbuat apa saja sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa hidup cuma di dunia. Kehidupan setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya, kita jadi nggak kenal ada istilah pahala dan dosa.


Sebaliknya, bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah Swt. yang menciptakan kita semua, maka hidup di dunia juga adalah untuk ibadah kepadaNya, dan setelah kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan amalan yang kita lakukan di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan, insya Allah balasannya pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih banyak atau selama hidup kita maksiat dan nggak sempat bertobat, jelas dosa dan kita ditempatkan di akhirat di tempat yang buruk, yakni neraka. Naudzubillahi min dzalik.


Nah, dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka ketika berbuat apapun kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang kehidupan yang benar itu. Termasuk ketika kita jatuh cinta. Jangan mentang-mentang jatuh cinta, lalu mengekspresikan cinta seenak hawa nafsu kita. Nggak dong, Brur. Nggak asal seneng ngeliat enak dipandang mata lalu main tubruk. Nggak banget. Tapi intinya sih, kita bakalan berpikir gimana seharusnya menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan yang saat ini dilakoni. Tolong dicatet ye.


Ini penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya “sebagaimana adanya kehidupan”, ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu dianggap berhak melakukan apa saja dalam kehidupan yagn ada sekarang, yakni Kapitalisme-Sekularisme, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina, minum khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran dsb). Karena merasa mereka berhak ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar. Bahaya besar, Bro!


Sementara yang berpikirnya “sebagaimana seharusnya”, maka ia akan nyocokkin dengan aturan yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini harus sesuai aturan yang benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar. Bukan yang lain.


Itu sebabnya, ketika jatuh cinta pun kita harus tetap iffah alias menjaga kehormatan dan kesucian diri. Ibnu Abbas berkata bahwa orang yang jatuh cinta tidak akan masuk surga kecuali ia bersabar dan bersikap iffah karena Allah dan menyimpan cintanya karena Allah. Dan, ini tidak akan terjadi kecuali bila ia mampu menahan perasaannya kepada ma’syuq-nya (kepada orang yang dicintainya), mengutamakan cinta kepada Allah, takut kepadaNya, dan ridha denganNya. Orang seperti ini yang paling berhak mendapat derajat yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam al-Quran:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS an-Naazi’aat [79]: 40-41)


Kita boleh dan wajar-wajar aja untuk jatuh cinta. Tapi, tetap harus menjaga kehormatan dan kesucian diri. Yakni dengan cara tetap menjadikan Allah dan RasulNya sebagai pemandu hidup kita. Kita melakukan perbuatan atas dasar petunjuk dari Allah lewat al-Quran dan petunjuk dari Rasulullah saw. berupa as-Sunnah. Inilah pedoman hidup kita. Oke? [solihin: sholihin@gmx.net]

Jangan Ada Dendam

Eh, gampang nggak sih kita ngasih maaf kalo ada temen kita yang minta maaf sama kita? Hmm.. gimana ya, apalagi doi tuh udah nyakitin kita banget. Kayaknya nggak gampang deh kalo kita langsung nerima permintaan maafnya. Menyembuhkan luka batin atau nyembuhin perasaan itu katanya sih lebih sulit ketimbang nyembuhin luka fisik. Bagi banyak orang, katanya sih lebih baik tubuh tertusuk pedang ketimbang ditusuk lidah dengan omongan yang nggak enak en nggak sedap. Mungkin bener juga kali ya kalo Bung Meggy Z sempat berdendang: “Kalau terbakar api, kalau tertusuk duri, mungkin masih dapat kutahan. Tapi ini.. sakit lebih sakit, kecewa karena cinta.... Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa...” (ih, kalo saya sih nggak kepengen dua-duanya tuh!)

Sobat muda muslim, biasanya kita inget terus kepada orang yang udah nyakitin perasaan kita. Sebab, rasa sakitnya kadang nggak bisa ditelan oleh waktu (duilee sampe segitunya). Gimana nggak, kita suka gondok kalo ada teman yang udah ngerendahin kita misalnya. Apalagi di depan banyak orang. Wuih, dendamnya bisa delapan turunan tuh. Iya, nyebelin nggak sih kalo kita misalnya minta diajarin ngaji Quran, terus doi ngomentarin: “Udah gede kayak gini masih belum bisa baca Quran? Kalah ama adek gue tuh yang masih SD!” Waduh, kalo di film kartun tuh muka kita udah merah padam dan keluar asap dari idung (banteng kalee...)

Mungkin wajar kalo kita gondok abis kalo dihina-dinakan dengan dahsyat. Mendingan dipukul pake kayu atau benda lainnya kali ya daripada dirajam pake kata-kata hinaan di depan banyak orang pula. Malu, kesel, dan juga marah sama orang yang model begitu. Nah, suatu ketika tiba-tiba doi minta maaf nih sama kita. Kira-kira apa yang bakalan kita lakukan?

Hmm.. kalo ngikutin hawa nafsu sih, kita pengennya nyiksa perasaan dia juga. Kayaknya sampe sujud juga nggak bakalan dikasih maaf kali tuh. Mau nangis darah dan ngesot-ngesot juga kayaknya nggak bakalan kita maafkan kesalahannya. Saking kesel dan gondoknya tentu. Duilee sebegitu sadisnya ya!

Kasus lainnya adalah meminta maaf. Ini juga hampir sama sulitnya dengan ngasih maaf. Gimana nggak, kadang gengsi juga bikin kita malas minta maaf. Apalagi mungkin menurut kita hal itu sepele. Jangan salah, banyak lho orang yang sulit meminta maaf. Kayaknya tuh lidah udah dipaku sehingga satu kata pernyataan maaf pun tak keluar dari mulut kita.

Kita malah cuek dan merasa benar sendiri. Kita jadi gengsi dan merasa tak perlu meminta maaf, apalagi kepada orang yang levelnya lebih rendah dari kita. Kita khawatir menjadi rendah di hadapan orang yang kita anggap status sosial maupun intelektualitasnya di bawah kita (ah, masa’ iya sih?)

Dendam? Nggak banget!

Sobat muda muslim, ngasih maaf dan meminta maaf seharusnya menjadi budaya yang baik di antara kita. Apa sih susahnya ngasih maaf, dan apa sih sulitnya minta maaf? Rasa-rasanya, itu hal yang kecil tapi dibesar-besarkan deh. Suer, Allah saja Maha Pengampun kepada hambaNya, masa’ sih kita kejam dan nggak mau sedikit pun ngasih maaf kepada teman kita. Dan, apakah kita udah ngerasa benar dan sempurna banget di hadapan manusia lain sehingga nggak perlu minta maaf? Rasulullah saw. saja mengajarkan bagaimana menghormati sahabat-sahabatnya. Tentu saja, jika beliau mau menghormati dan lemah-lembut kepada sahabatnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa beliau pun mau dan biasa meminta maaf kepada sahabat-sahabatnya.

Di dalam ash-Shahihain dari hadis Aisyah ra, dari Nabi saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai kelemah-lembutan dalam segala urusan.”(HR Bukhari dan Muslim)

Gondok sama orang boleh aja. Tapi bukan berarti harus terus-terusan dipelihara. Selain capek ati, juga kita jadi keras hati. Salah-salah malah jadi pendendam. Memang sakit banget kalo dihina sama seseorang. Kita bisa kecewa jika dikhianati, kita bisa muak jika dibohongi. Tapi, bukan berarti kita terus memendam perasaan itu apalagi berniat tak akan pernah memaafkannya sampe delapan turunan (bosen nih tujuh turunan mulu!).

Sobat, di dunia ini memang penuh lika-liku kehidupan. Ada suka ada duka, ada kecewa ada bahagia, ada pengkhianatan ada pembelaan, ada kebohongan ada kejujuran. Kita pernah merasakannya, atau bahkan memberikan ketidaksukaan kepada orang lain. Kecewa boleh, sakit hati boleh, tapi jika hal itu dipelihara dalam kurun waktu yang lama, bahkan diabadikan dalam ruang batin kita, tentunya akan menyiksa kita. Selain itu, kita akan terus selamanya mendendam kepada orang yang telah melukai perasaan kita. Dampak lainnya kita bisa saja jadi orang yang traumatis, frustasi dan mungkin saja minder karena telah dihinakan oleh orang lain. Akibatnya, yang menjadi masalah bukan benar-salah, melainkan apa untungnya dan apa ruginya buat kita.

Jika benar-salah bukan lagi pertimbangan, tapi yang jadi pertimbangan adalah untung-rugi apa jadinya dunia ini? Padahal, bisa jadi memang dia salah kepada kita. Tapi, apakah dia akan selamanya salah? Nggak juga kan? Sama seperti kita, apa ketika kita berbuat benar, kemudian selamanya akan benar? Nggak ada jaminan tuh! Kita juga nggak mau dianggap salah terus, padahal kita udah berusaha untuk menjadi lebih baik. Iya kan? Nah, cobalah dipikir ulang soal ini.

Sobat, Rasulullah saw. pernah menyampaikan sabdanya: “Shadaqah tidak mengurangi sebagian dari harta, dan Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan, dan seseorang tidak bertawadhu’ karena Allah, melainkan Allah meninggikannya.” (Ibnu Qudamah, dalam kitab Minhajul Qashidin, hlm. 233)

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimimu.” (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Baghawy)

Subhanallah, Rasulullah saw. telah mengajarkan kita untuk lemah-lembut, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita. Kita ngasih maaf kepada orang yang udah ngelukain hati kita. Hebat. Padahal, banyak di antara kita yang masih gengsi karena ego kita yang gede banget. Ngerasa hal itu amat hina jika dilakukan. Tapi Rasulullah saw., yang lebih mulia dari kita, mengajarkan kita untuk gampang ngasih maaf, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita. Agak sulit memang, tapi bisa dicoba.

Sobat muda muslim, ketika kita meyakini bahwa dendam, sakit hati, dan kebencian adalah jawaban paling benar di dunia ini, dan itu satu-satunya jawaban, maka pengetahuan, pengalaman, dan kesadaran kita akan kalah, tak berguna, dan lumpuh total.

Nah, nggak mungkin kan selamanya kita dendam sama orang? Emang sih, sebelum kita tahu banyak hal tentang kehidupan dunia ini, kayaknya kitalah yang ngerasa paling benar atas apa yang kita lakukan. Kita menghibur diri kita bahwa kita wajar ngelakuin apa pun yang kita suka. Termasuk menjadi pendendam. Tapi ketika begitu banyak menyimak ‘hikmah’ dari segala peristiwa di dunia ini, kita mulai sadar. Kita akan lebih bijak menikmati dunia ini. Pengetahuan, pengalaman, dan kesadaran kita akan menjadikan kita dewasa dan bukan mustahil kalo akhirnya kita mau menerima perbedaan, mau mengampuni orang-orang yang telah berbuat buruk kepada kita. Karena kita tahu dan yakin, bahwa tak selamanya manusia itu buruk, dan tak selalu manusia itu berbuat baik. Manusia tuh dinamis. Asal kita mau mengubah (kepada kebaikan tentunya), insya Allah bisa. Tu nggak?

Jadilah pemaaf

Dalam riwayat al-Bukhari, dari hadis Ibnu Abbas ra, bahwa ada seseorang yang meminta izin untuk bertemu Umar bin Khaththab. Setelah orang itu diizinkan, dia berkata, “Wahai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami yang banyak dan tidak membuat keputusan di antara kami secara adil”.

Umar pun marah besar mendengarnya, bahkan hampir saja dia memukulnya. Al-Hurr bin Qais segera berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman kepada Nabi saw., ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh’ (QS al-A’raaf [7]: 199). Dia adalah termasuk orang-orang yang bodoh.”

Maka Umar pun mengurungkan niatnya untuk menghajar orang itu setelah dibacakan ayat ini. Setelah itu pikirannya terus menerawang terhadap Kitab Allah (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin, hlm. 228)

Sobat, kalo udah jadi orang yang pendendam biasanya kita akan memikirkan terus masa lalu kita. Kita akan tetap merasa kecewa dan sakit hati kepada mereka yang telah melukai perasaan kita. Kita akan memeliharanya dalam jangka waktu lama. Kita tetap begitu, padahal orang lain sudah berubah. Setiap kali inget orang yang telah menzhalimi kita, kita bertambah sebal dan rajin menyiapkan strategi untuk membalas luka di hati kita. Kalo setiap saat kita begitu, bisa-bisa bikin stres deh. Suer. Hidup ini untuk dinikmati dengan benar dan baik. Bukan dengan stres. Mulailah bersikap dewasa dan menghargai setiap perubahan. Ya, kita harus menghargai. Kalo dulu teman kita menghina kita, tapi kini ketika dia meminta maaf kepada kita, berarti insya Allah dia udah mulai berubah. Setidaknya ingin menghapus kejahatannya kepada kita.

Semoga kita gampang memaafkan orang yang telah menzhalimi kita sekali pun. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk sabar, lemah lembut, dan pemaaf. Oya, sikap pemaaf adalah suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam bahasa Arab sifat pemaaf tersebut disebut dengan al-‘afwu yang secara etimologis berarti kelebihan atau yang berlebih, sebagai mana yang terdapat dalam ayat: “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang berlebih dari keperluan...” (QS al-Baqarah [2]: 219)

Penjelasannya nih, yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Dari pengertian mengeluarkan yang berlebih itu, kata al-‘afwu kemudian berkembang maknanya menjadi menghapus. Dalam konteks bahasa ini memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. (M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, hlm. 247)

Oke, itu sebabnya menjadi pendendam itu nggak baik. Nggak ada untungnya juga. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya bertemu tapi saling memalingkan mukanya. Dan yang paling baik di antara keduanya ialah yang memulai lebih dahulu mengucapkan salam” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Jadi, mulai sekarang berlapang dadalah. Juga harus ngakuin bahwa setiap manusia pasti punya kesalahan. Permintaan maaf itu sebagai bukti bahwa ia pernah berbuat salah dan ingin menebusnya. Karena definisi dari maaf itu sendiri adalah pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. Mau kan kita mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepada kita?

So, kita juga bisa jadi pernah (atau bahkan sering?) berbuat salah, dan orang lain juga pernah berbuat salah dan menyakitkan kepada kita. Itu sebabnya, kita harus mengakui kenyataan ini dan berusaha untuk bersikap bijak. Tak ada manusia yang terus berbuat salah dan tak ada manusia yang selamanya berbuat baik. Dengan demikian, yang lebih oke adalah mereka yang saling memaafkan dengan sesamanya. Akur dong ya? Siiip! [solihin: sholihin@gmx.net]